Daftar Isi Artikel
JAKARTA – Pergerakan nilai tukar Rupiah kembali berada dalam tren negatif pada perdagangan awal pekan ini. Nilai tukar rupiah melemah 0,23 persen di pasar spot, bergerak ke kisaran Rp17.995 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menciptakan tekanan bagi pasar saham domestik yang berujung pada penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Tekanan Sentimen Kebijakan The Fed dan Geopolitik
Pasar global kini menanti kepastian langkah Bank Sentral AS atau The Fed. Kenaikan Dollar Index sebesar 0,1 persen hingga mencapai 100,958 menjadi indikator utama penguatan greenback di hadapan enam mata uang utama dunia. Investor mengantisipasi kebijakan suku bunga tinggi yang berkepanjangan (higher-for-longer).
Ketidakpastian pasar dipicu oleh beberapa faktor utama:
- Dot plot terbaru The Fed mengisyaratkan potensi kenaikan suku bunga acuan setidaknya sekali pada tahun ini.
- Guncangan pada sektor energi akibat ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran terus membayangi sentimen investor.
- Pasar modal memasuki paruh kedua tahun 2026 dengan sikap kehati-hatian yang cukup tinggi.
Jika pelemahan terus berlanjut, level dukungan atau support berada pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Tren Komoditas dan Data Sektor Jasa
Phillip Sekuritas Indonesia menyoroti pentingnya data ekonomi mendatang sebagai penentu arah pasar. Para pelaku pasar menunggu rilis perhitungan final S&P Global Services AS serta data ISM non-manufacturing Index malam nanti. Tren komoditas emas juga mencerminkan kondisi tekanan pasar yang sedang berlangsung.
Berikut adalah ringkasan performa emas pada kuartal kedua 2026:
- Harga emas tergerus 14,32 persen secara point-to-point pada kuartal kedua tahun ini.
- Penurunan harga mencapai 22 persen dari level tertinggi US$5.300 yang terjadi pada Januari lalu.
- Faktor utama tekanan meliputi kekhawatiran lonjakan inflasi, penguatan nilai tukar dolar AS, serta kebijakan pengetatan bank sentral global.
Kondisi geopolitik yang turut membatasi selera risiko investor menambah beban bagi aset-aset berisiko.
Ke depan, stabilitas nilai tukar akan menjadi variabel utama bagi pelaku pasar dalam meninjau kembali keputusan alokasi aset. Pergerakan data makro ekonomi AS diprediksi akan menjadi katalis yang menentukan arah perdagangan pada sesi berikutnya.