Terkini24.id – Pergerakan zona hijau mewarnai lantai bursa di Jakarta pada Jumat sore (3/7/2026), saat indeks menutup pekan dengan catatan manis. Laju saham IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil melesat kokoh sebesar 131,22 poin atau 2,28 persen ke posisi 5.875,78.
Lonjakan signifikan ini dipicu oleh meredanya tensi geopolitik global serta rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang direspons positif oleh para pelaku pasar.
Tidak hanya indeks utama, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turut meroket dengan kenaikan 16,29 poin atau 2,88 persen ke posisi 581,78. Tren positif ini berjalan selaras dengan penguatan yang terjadi di mayoritas bursa saham kawasan Asia.
Dorongan Sentimen Global dan Kebijakan The Fed
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico, menjelaskan faktor di balik performa gemilang ini. “Jelang akhir pekan, sentimen global memberikan katalis positif terhadap menguatnya IHSG,” ujar Nico dikutip dari Kantor Berita Antara.
Katalis tersebut datang dari Qatar yang melaporkan adanya perkembangan kondusif dalam mediasi damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Meskipun pembahasan gencatan senjata bulan Juni 2026 berjalan lancar, investor tetap memperhatikan kepastian jangka panjang.
Nico menambahkan, “Namun, pelaku pasar masih bersikap waspada karena belum ada kesepakatan tertulis yang menjamin perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut.”
Dampak Pasar Tenaga Kerja AS
Kondisi pasar kian bergairah setelah data nonfarm payrolls (NFP) AS bulan Juni hanya bertambah 57.000, berada di bawah estimasi awal sebesar 110.000. Laporan ini memicu spekulasi baru bahwa bank sentral AS tidak akan mengatrol suku bunga dalam waktu dekat.
Mengenai hal ini, Nico memaparkan, “Rilis data pasar tenaga kerja AS yang melambat memberikan pandangan baru pelaku pasar yang berspekulasi The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.”
Berdasarkan data CME Fedwatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 kini menyusut menjadi sekitar 45,6 persen. Angka tersebut turun drastis dari yang sebelumnya mencapai 67 persen sebelum laporan ketenagakerjaan resmi dirilis.
Kesepakatan RAPBN 2027 dan Sektor Industri
Dari dalam negeri, kepastian datang setelah pemerintah bersama DPR menyepakati postur awal Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Sinergi ini menjadi fondasi kuat bagi penyusunan Nota Keuangan dan RUU APBN mendatang.
Nico menyatakan, “Postur ini mencerminkan upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi.”
Berikut adalah rincian target dalam postur awal anggaran yang telah disepakati tersebut:
- Rasio pendapatan negara ditargetkan sebesar 12,01-12,40 persen terhadap PDB.
- Penerimaan perpajakan mencapai 10,08-10,45 persen terhadap PDB.
- Belanja negara dipatok pada kisaran 13,82-14,20 persen terhadap PDB.
- Defisit anggaran diperkirakan berada di rentang 1,8-2,2 persen terhadap PDB.
Rekapitulasi Data Perdagangan Akhir Pekan
Sepanjang hari, indeks terus bergerak nyaman di zona hijau hingga lonceng penutupan perdagangan saham dibunyikan oleh otoritas. Penguatan ini ditopang oleh sebelas sektor IDX-IC yang dipimpin oleh sektor industri dengan kenaikan sebesar 3,74 persen.
Perdagangan hari ini mencatatkan frekuensi sebanyak 1.363.000 kali transaksi dengan volume saham mencapai 17,15 miliar lembar senilai Rp10,53 trillion. Sebanyak 520 saham terpantau naik, 159 saham menurun, dan 280 saham lainnya tidak bergerak nilainya. Pelaku pasar juga mencermati pergerakan emiten dengan perubahan harga paling dinamis hari ini.
Berikut rincian saham-saham yang mengalami pergerakan paling signifikan:
- Saham penguatan terbesar (top gainers): KOKA, FUTR, ECII, COCO, dan RMKO.
- Saham pelemahan terbesar (top losers): BOBA, JECC, INPP, RANC, dan KBLI.
Aktivitas pasar yang bergairah ini menutup pekan dengan optimisme tinggi bagi para investor di dalam negeri. Pemulihan indeks yang didorong oleh harmonisasi data ekonomi global dan domestik diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar modal Indonesia pada pekan-pekan berikutnya.