Terkini24.id – Kedatangan bulan Muharram senantiasa dinantikan oleh masyarakat Muslim karena menyimpan berbagai momentum ibadah penting. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada awal tahun Hijriah ini adalah ibadah menahan lapar dan dahaga pada hari kesepuluh. Mengingat besarnya keutamaan amalan tersebut, banyak orang mulai mempertanyakan mengenai
“puasa asyura untuk apa?”
Secara garis besar, ibadah sunnah ini ditunaikan untuk menghapuskan dosa-dosa kecil yang dilakukan hamba sepanjang setahun lalu. Selain menjadi sarana pembersihan spiritual, pengerjaannya juga berfungsi sebagai wujud penghormatan atas kemenangan besar para nabi terdahulu.
Penjelasan ini sekaligus menjawab alasan utama mengapa umat Islam disunnahkan menahan lapar dan dahaga pada hari tersebut.
Sejarah Penyelamatan Nabi Musa di Laut Merah
Kemunculan ibadah ini tidak lepas dari peristiwa sejarah besar yang melibatkan keselamatan para utusan Allah pada masa lampau. Jejak sejarah tersebut kemudian diintegrasikan secara resmi menjadi bagian dari syariat bagi umat Islam. Kejadian epik ini bermula ketika rombongan Bani Israil melarikan diri dari penindasan penguasa Mesir kuno.
Tepat pada tanggal 10 Muharram, mukjizat besar turun dengan terbelahnya air di Laut Merah guna menyelamatkan Nabi Musa AS. Keajaiban tersebut membuat sang nabi beserta pengikutnya selamat, sementara Firaun dan seluruh pasukannya tenggelam.
Sebagai ekspresi rasa syukur yang mendalam atas pertolongan tersebut, Nabi Musa AS selalu menjalankan ibadah puasa setiap tahunnya. Ritual ini kemudian dipertahankan secara turun-temurun oleh generasi setelahnya.
Berawal dari Tradisi Masyarakat Yahudi di Kota Madinah
Ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan hijrah dan tiba di Kota Madinah, beliau melihat sebuah kebiasaan unik dari penduduk lokal. Masyarakat Yahudi yang tinggal di sana kedapatan tengah menjalankan puasa bertepatan pada tanggal 10 Muharram. Setelah ditelusuri, mereka melakukan hal itu demi memuliakan hari kemenangan yang pernah diraih oleh Nabi Musa AS.
Mendengar pemaparan dari kaum tersebut, Rasulullah SAW memberikan respons yang tegas bagi para pengikutnya. Beliau menyatakan bahwa kaum Muslim memiliki kedekatan spiritual yang jauh lebih tinggi untuk menghormati Nabi Musa AS. Penegasan ini memicu lahirnya perintah baru di kalangan sahabat:
- Umat Islam dinilai lebih berhak meneladani perjuangan para nabi terdahulu.
- Nabi Muhammad SAW secara personal ikut melaksanakan ibadah menahan lapar tersebut.
- Para sahabat diinstruksikan untuk menyertai pelaksanaan puasa sunnah ini secara rutin.
Melalui pemahaman sejarah ini, pelaksanaan puasa Asyura kini dipandang bukan sekadar ritual musiman, melainkan wujud rasa syukur global umat Islam. Pembersihan dosa setahun lalu menjadi hadiah spiritual yang memotivasi masyarakat untuk terus menjaga kontinuitas ibadah ini setiap tahunnya. Baca juga keutamaan lainnya puasa ini di Fadhilah Puasa 9 10 Muharram