IHSG Hari Ini Dibuka Menguat ke Level 5.936 Berkat Sentimen Positif Global

IHSG Melonjak
IHSG Melonjak

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi hari ini dibuka menguat pada perdagangan Jumat (10/7). Indeks saham utama ini melonjak sebesar 23,59 poin atau setara 0,40 persen menuju level 5.936,04. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 juga mencatatkan kenaikan sebesar 4,13 poin atau 0,10 persen ke posisi 590,04.

“Selama IHSG bertahan di atas area 5.900, peluang penguatan lanjutan masih terbuka menuju 5.987, kemudian 6.045-6.107. Sebaliknya, apabila kembali turun di bawah 5.900, indeks berisiko menguji support di 5.839-5.805, sebelum menuju gap area di sekitar 5.744,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Faktor Global dan Optimisme Sektor Teknologi

Di kancah internasional, perhatian pelaku pasar tertuju pada eskalasi geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan baru terhadap sekitar 170 target di Iran. Tindakan tersebut merupakan respons atas penyerangan kapal tanker minyak sebelumnya.

Namun, harga komoditas minyak dunia justru terkoreksi hampir 3 persen setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihak Iran telah membuka komunikasi untuk mencapai kesepakatan damai, yang meredakan kecemasan pasar akan gangguan pasokan energi.

Selain itu, gairah pasar kembali terangkat oleh pulihnya sektor kecerdasan buatan (AI) setelah saham-saham semikonduktor bangkit dari tekanan aksi ambil untung.

Sentimen ini diperkuat oleh langkah korporasi besar seperti rencana Meta memproduksi cip AI mandiri, tingginya minat terhadap IPO SK Hynix di AS, serta ekspansi investasi oleh Micron.

“Secara keseluruhan, kombinasi pasar tenaga kerja yang masih resilien dan pelemahan sektor perumahan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan pendekatan wait-and-see, sehingga tetap menjadi sentimen positif bagi pasar ekuitas,” kata Liza.

Fokus investor juga tertuju pada kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed, yang saat ini belum mengeluarkan kebijakan baru. Pasar masih terus memantau pengaruh konflik Timur Tengah terhadap laju inflasi serta arah suku bunga ke depan.

Kondisi Emiten Domestik dan Proyeksi Ekonomi

Dari dalam negeri, otoritas bursa melaporkan penurunan jumlah perusahaan yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) menjadi 14 emiten. BEI menegaskan bahwa status HSC ini bukanlah bentuk hukuman atau sanksi, melainkan instrumen penunjang transparansi, peningkatan free float, serta likuiditas saham yang dievaluasi secara berkala bersama KSEI.

“Berkurangnya jumlah emiten dalam daftar HSC mencerminkan perbaikan struktur kepemilikan saham dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas serta efisiensi pasar modal Indonesia,” tambah Liza.

Kondisi makroekonomi dalam negeri kian kokoh setelah IMF mempertahankan estimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada level 5,0 persen untuk tahun 2026 dan 5,1 persen pada 2027. Proyeksi tersebut memperlihatkan keyakinan lembaga internasional terhadap kekuatan fundamental ekonomi nasional yang ditopang oleh konsumsi domestik serta arus investasi, di tengah tren perlambatan ekonomi global.

Pergerakan Bursa Saham Internasional

Pergerakan saham di sejumlah bursa dunia terpantau bervariasi pada penutupan perdagangan terakhir:

Bursa Eropa

Indeks Euro Stoxx 50 naik 1,25 persen, DAX Jerman menguat 0,89 persen, CAC 40 Prancis terangkat 0,90 persen, sedangkan FTSE 100 Inggris melemah 0,16 persen.

Bursa Amerika Serikat

Indeks S&P 500 menguat 2,18 persen ke level 7.543,55, Nasdaq Composite melonjak 1,3 persen ke 26.206,89, dan Dow Jones Industrial Average merangkak naik 0,3 persen ke posisi 52.487,44.

Bursa Asia

Indeks Nikkei melesat 2,24 persen ke level 69.224,00, Hang Seng Hong Kong menguat 1,65 persen ke 7.264,76, Shanghai Composite naik 0,54 persen ke 4.058,97, serta Straits Times Singapura terangkat 0,44 persen ke posisi 5.457,92.

Penguatan awal IHSG ini mencerminkan respons positif investor terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri serta gairah industri teknologi global. Pergerakan indeks ke depan akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik global dan keputusan suku bunga acuan dalam menjaga momentum pertumbuhan ini.