Terkini24.id – Indeks utama Wall Street ditutup anjlok tajam pada perdagangan Rabu (29/7/2026) setelah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Penahanan suku bunga ini memicu aksi jual meluas di bursa saham AS, terutama pada sektor teknologi dan saham kecerdasan buatan (AI). Keputusan tersebut langsung menebar kekhawatiran baru bagi investor pasar modal global terkait prospek pemangkasan biaya pinjaman.
Pelemahan tajam melanda tiga indeks utama bursa saham New York secara bersamaan. Penurunan ini mencerminkan tingginya tekanan jual yang terjadi di pasar keuangan kawasan tersebut.
- Indeks S&P 500 merosot 1,52 persen ke level 7.316,15.
- Indeks Nasdaq melemah 1,74 persen hingga menyentuh level 24.442,94.
- Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 2,19 persen ke posisi 51.594,14.
Perpecahan Internal Komite The Fed
Keputusan The Fed menahan suku bunga acuan di level 3,50 persen hingga 3,75 persen rupanya diwarnai perbedaan pandangan internal. Sebanyak 3 dari 12 anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyuarakan penolakan dan menginginkan kenaikan 25 basis poin.
Perbedaan pendapat ini mempertegas ketidakpastian arah kebijakan moneter AS ke depan. Inflasi di Amerika Serikat sendiri tercatat masih bertahan di atas target resmi bank sentral selama lebih dari lima tahun terakhir.
Tekanan inflasi kian berat akibat eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga bahan bakar dan pangan dunia. Kondisi tersebut memaksa pasar mengantisipasi potensi pengetatan moneter susulan pada pertemuan mendatang.
Kepala Analis Pasar Carson Group, Ryan Detrick, menilai pasar kini menyoroti pertemuan bank sentral berikutnya. “The Fed mempertahankan suku bunga saat ini, seperti yang diharapkan. Namun, pertanyaan yang lebih besar sekarang adalah seberapa besar tekanan yang akan mereka hadapi untuk menaikkan suku bunga pada September. Inflasi masih tinggi dan dengan melonjaknya harga minyak mentah, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga berikutnya memang akan terjadi pada September,” ujarnya.
Saham Sektor AI Turun Tajam
Selain faktor suku bunga, kecemasan investor juga dipicu oleh pembengkakan alokasi modal perusahaan teknologi besar untuk infrastruktur AI. Pengeluaran jumbo bernilai miliaran dolar AS tersebut dikhawatirkan dapat menggerus arus kas bebas perusahaan dalam jangka pendek.
Saham Meta Platforms langsung terkoreksi 4 persen dalam sesi perdagangan setelah penutupan bursa. Pelemahan ini terjadi setelah Meta menaikkan batas bawah proyeksi belanja modal tahun 2026 menjadi 130 miliar hingga 145 miliar dolar AS.
Nasib berbeda dialami Microsoft yang sahamnya naik tipis 0,6 persen berkat kinerja bisnis layanan awan yang melampaui estimasi. Capaian positif ini memberi sinyal bahwa investasi AI perusahaan mulai menghasilkan pendapatan riil.
Sebaliknya, saham produsen pendukung infrastruktur AI seperti Vertiv meluncur deras hingga 17 persen akibat capaian pendapatan yang berada di bawah ekspektasi. Sementara itu, saham produsen chip asal Korea Selatan, SK Hynix, anjlok 10 persen meski mencatatkan lonjakan laba enam kali lipat.
Prospek Pertumbuhan Ekonomi Sektor Teknologi
Tingkat persaingan pengembangan teknologi AI juga semakin memanas dengan hadirnya para pemain asal China. Perusahaan asal Negeri Tirai Bambu terus menggempur pasar dengan inovasi chip canggih serta model AI berbiaya lebih murah.
Meski pasar merespons negatif besarnya belanja modal, Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan pandangan yang lebih optimistis. Ia menyatakan bahwa investasi besar pada teknologi AI tengah membangun fondasi bagi pertumbuhan ekonomi pada masa depan.
Di sisi lain, konsensus analis LSEG memperkirakan laba agregat emiten S&P 500 pada kuartal II 2026 masih sanggup melonjak 40 persen secara tahunan. Sektor berbasis teknologi kecerdasan buatan tetap diproyeksikan menjadi penopang utama pertumbuhan kinerja keuangan tersebut.
Koreksi tajam Wall Street menjadi sinyal kuat bahwa pasar saham global sedang berada dalam fase konsolidasi ketat. Kombinasi antara ketidakpastian arah suku bunga The Fed dan tuntutan pembuktian efisiensi investasi AI akan terus menjadi penentu utama pergerakan bursa saham dalam beberapa waktu mendatang.