TikTok kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap karyawan Tokopedia. Berdasarkan informasi yang dilansir dari CNBCIndonesia.com, hampir seluruh operasional teknologi platform e-commerce tersebut kini dialihkan pengelolaannya kepada pihak ByteDance di China.
Gelombang pemangkasan karyawan terbaru ini menyebabkan jumlah tenaga kerja di bidang teknologi Tokopedia menyusut drastis. Dari total 1.100 karyawan yang ada sebelum akuisisi, kini tersisa sekitar 35 orang saja yang bekerja pada divisi tersebut.
Dilansir juga dari Akun Instagram @ecommurz yang diberitakan oleh Detik Finance, menyebut ByteDance, induk usaha TikTok, melakukan PHK terhadap 90% pegawai Tokopedia.
Perubahan Struktur Teknologi Tokopedia
Langkah efisiensi ini melibatkan perumahan terhadap lebih dari 450 karyawan di unit teknologi. Saat ini, hanya tersisa sekitar 10% dari total 2.500 staf yang bekerja di perusahaan sejak masa transisi dari GoTo ke pihak TikTok.
Karyawan yang tersisa kini mayoritas terbagi ke dalam unit bisnis, trust and safety, serta teknologi. Meski demikian, pihak internal menyebut bahwa kendali sistem teknologi Tokopedia dan TikTok Shop kini sepenuhnya berada di bawah kendali tim ByteDance di luar negeri.
“Dulu sebelum diambil ByteDance, [karyawan teknologi] 1.100 [orang]. Dalam batch terakhir, tech 500-an [terkena PHK]. Sekarang tech sisa 35 orang,” ujar narasumber kepada CNBC Indonesia.
Penjelasan Resmi Pihak TikTok
Manajemen TikTok menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya penyelarasan organisasi. Perusahaan mengeklaim langkah ini bertujuan untuk memperkuat efisiensi operasional agar dapat mendukung perkembangan ekosistem bisnis bagi para pelaku usaha lokal.
“Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” ujar Juru Bicara TikTok dalam keterangan yang diterima CNBC Indonesia, Kamis (2/7/2026).
Sebagai informasi, ByteDance resmi mengakuisisi 75% saham Tokopedia dari GoTo pada Januari 2024. Kebijakan ini diambil setelah adanya pembatasan operasional layanan belanja daring di media sosial oleh pemerintah Indonesia.
Performa Pasar dan Kepemilikan Saham
Pasca-akuisisi, GoTo masih mempertahankan kepemilikan sebesar 24,99% saham di Tokopedia. Selain itu, GoTo juga tetap berhak menerima arus kas melalui imbalan jasa e-commerce yang dibayarkan setiap kuartal berdasarkan kesepakatan kedua pihak.
Berdasarkan data Momentum Works tahun 2026, posisi Tokopedia kini berada di urutan terbawah dibandingkan kompetitor utama di Asia Tenggara dengan nilai GMV sekitar US$9 miliar pada 2025. Sebaliknya, entitas TikTok Shop mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan nilai GMV mencapai US$45,6 miliar pada periode yang sama.
Perubahan operasional ini menandai babak baru bagi Tokopedia dalam ekosistem belanja digital nasional. Fokus pada efisiensi teknologi di bawah kendali ByteDance diharapkan dapat memengaruhi peta persaingan pasar e-commerce ke depannya.