Ponakan Prabowo Diisukan Menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI)

Dilansir dari suara.com, isu penunjukan ponakan Prabowo sebagai Gubernur Bank Indonesia memicu kekhawatiran pasar terkait independensi BI.

Terkini24.id – Dilansir dari suara.com, isu peluang ponakan Presiden Prabowo, Thomas Djiwandono, akan menduduki kursi Gubernur Bank Indonesia memicu perhatian tajam dari pelaku pasar keuangan. Perubahan pucuk pimpinan bank sentral ini menjadi sorotan penting karena berkaitan langsung dengan kepercayaan investor terhadap independensi lembaga moneter nasional.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai wacana tersebut berpotensi mendatangkan kekhawatiran pasar. Kondisi ini muncul karena penunjukan tersebut dinilai melompati pengalaman serta senioritas Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti.

Kekhawatiran pasar tentu akan meningkat apabila Thomas Djiwandono kemudian langsung ditunjuk menjadi Gubernur BI, melangkahi pengalaman dan senioritas Destry Damayanti yang merupakan Deputi Gubernur Senior dan secara kelembagaan merupakan figur paling natural untuk memimpin masa transisi,” ujar Liza dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/7/2026).

Risiko Independensi Bank Sentral

Menurut Liza, Thomas baru bergabung dalam jajaran Dewan Gubernur BI selama beberapa bulan terakhir. Hal tersebut membuat pasar sulit melihat proses pergantian pimpinan ini sebagai sebuah suksesi yang berjalan secara alamiah.

Secara hukum, penunjukan Thomas mungkin saja sah apabila diusulkan Presiden dan disetujui DPR. Tetapi kita juga harus ingat bahwa legalitas tidak otomatis menghasilkan kredibilitas,” katanya.

Hubungan keluarga dengan Presiden, pengalaman singkat di bank sentral, serta pengabaian Deputi Gubernur Senior dapat menciptakan persepsi negatif. Hubungan pemerintah dan BI dikhawatirkan bergeser dari koordinasi kebijakan murni menjadi kontrol politik.

Ancaman Dominasi Fiskal

Liza juga mengingatkan potensi munculnya risiko ketika kebijakan moneter lebih diarahkan untuk mendukung kebutuhan pemerintah. Kebijakan tersebut mencakup penjagaan biaya utang negara, likuiditas program pemerintah, hingga pembiayaan fiskal.

Kalau itu terjadi, fokus utama BI bisa bergeser. Keputusan moneter tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada inflasi, rupiah, dan stabilitas eksternal, tetapi ikut menyesuaikan diri dengan kebutuhan fiskal dan agenda politik pemerintah,” ucapnya.

Isu utama yang perlu dicermati bukanlah kemampuan individu calon pemimpin, melainkan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar. Keberanian menolak intervensi saat kebijakan moneter bertentangan dengan kebutuhan fiskal menjadi ujian utama.

Pandangan Pelaku Pasar

Pengunduran diri Perry Warjiyo sebelumnya belum bisa dijadikan bukti berkurangnya independensi lembaga. Namun, penempatan figur berelasi keluarga dekat Presiden yang minim masa kerja di bank sentral tetap menuntut pengawasan ketat dari investor.

Menjaga kredibilitas bank sentral melalui transparansi dan komitmen profesionalisme menjadi kunci utama meredam ketidakpastian pasar. Stabilitas ekonomi nasional sangat bergantung pada bagaimana pemerintah dan otoritas moneter merawat independensi institusi keuangan tersebut ke depan.

Artikel berita ini dilansir dari https://www.suara.com/bisnis/2026/07/27/115210/pasar-gaduh-keponakan-prabowo-diisukan-jadi-gubernur-bi