Saham BBCA dan BMRI Angkat Performa IHSG Hari Ini, Investor Asing Catat Net Buy Signifikan

IHSG menguat 0,55% di sesi pertama Jumat (17/7/2026). Saham BBCA dan BMRI memimpin kenaikan pasar di tengah optimisme data ekonomi domestik dan global.

TERKINI24.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan pada perdagangan sesi pertama hari Jumat, 17 Juli 2026. Indeks ditutup naik 0,55% atau bertambah 33,77 poin ke level 6.141,98, setelah sebelumnya sempat bergerak melemah dan menyentuh posisi terendah di angka 6.079,32.

Aktivitas perdagangan di pasar saham terpantau cukup ramai dengan total nilai transaksi mencapai Rp7,23 triliun. Secara keseluruhan, terdapat 15,75 miliar lembar saham yang diperdagangkan, dengan frekuensi transaksi mencapai 1,16 juta kali selama sesi pertama berlangsung.

Dominasi Sektor Perbankan dalam Transaksi

Pergerakan indeks sepanjang sesi ini didominasi oleh saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin daftar dengan nilai transaksi paling tinggi mencapai Rp997 miliar.

Posisi selanjutnya diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp626 miliar. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp558,75 miliar.

Sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang memberikan kontribusi positif bagi indeks dengan kenaikan sebesar 1,64%. Sebaliknya, tujuh dari sebelas sektor lainnya justru bergerak di zona merah.

Berdasarkan data yang ada, empat bank besar memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan indeks dengan sumbangan mencapai 20 poin. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mengalami kenaikan 3,25%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) naik 3,15%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 2,57%, dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 2,41%.

Di sisi lain, terdapat saham yang membebani indeks pada sesi ini. PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) menjadi pemberat utama dengan koreksi sebesar 3,94%, yang memberikan dampak negatif terhadap IHSG sebesar 7,94 poin.

Sentimen Pasar: Ekonomi AS dan Investasi Domestik

Sentimen positif yang menggerakkan pasar pada sesi ini dipengaruhi oleh kombinasi data makroekonomi domestik dan internasional. Pelaku pasar tengah mencerna rilis data pasar tenaga kerja dan konsumsi ritel Amerika Serikat (AS) yang mengonfirmasi ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam.

Data tersebut memberikan keyakinan bagi investor bahwa ekonomi global masih memiliki daya tahan yang cukup baik. Kondisi ini memberikan dampak positif terhadap sentimen risiko para pelaku pasar di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.

Dari dalam negeri, iklim pasar juga mendapatkan dukungan dari data fundamental yang solid. Rekor realisasi investasi pada semester I-2026 yang mencapai angka Rp1.010,6 triliun menjadi katalisator bagi kepercayaan investor.

Selain itu, peresmian proyek gas raksasa Blok Masela di Maluku memberikan sinyal positif bagi prospek pembangunan infrastruktur dan energi di Indonesia. Kedua faktor ini menjadi penopang utama bagi investor untuk tetap menempatkan modalnya di pasar domestik.

Pergerakan Aliran Modal Asing

Optimisme pasar ini turut tercermin dari aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar saham dalam negeri. Investor asing tercatat kembali melakukan pembelian bersih atau net buy dengan nilai sebesar Rp39,90 miliar pada sesi pertama hari ini.

Secara keseluruhan, nilai transaksi asing pada sesi I tercatat mencapai Rp5,30 triliun. Angka tersebut terbagi dalam foreign buy sebesar Rp2,67 triliun dan foreign sell sebesar Rp2,63 triliun.

Investor asing terlihat sangat meminati saham perbankan big caps. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi sasaran utama aksi beli asing dengan nilai Rp367,30 miliar, diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp198,05 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Rp163,21 miliar.

Daftar Aksi Beli dan Jual Asing

Berikut adalah rincian saham-saham yang diburu serta dilepas oleh investor asing pada perdagangan sesi pertama Jumat (17/7/2026):

Net Foreign Buy:

  • PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) – Rp367,30 miliar
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) – Rp198,05 miliar
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) – Rp163,21 miliar
  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) – Rp89,20 miliar
  • PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) – Rp14,34 miliar
  • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) – Rp4,79 miliar
  • PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) – Rp3,38 miliar
  • PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) – Rp3,17 miliar
  • PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) – Rp2,09 miliar
  • PT Bersama Mencapai Puncak Tbk. (BAIK) – Rp2,09 miliar

Net Foreign Sell:

  • PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) – Rp143,27 miliar
  • PT Astra International Tbk. (ASII) – Rp86,44 miliar
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) – Rp53,22 miliar
  • PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) – Rp33,51 miliar
  • PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) – Rp33,51 miliar
  • PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) – Rp30,76 miliar
  • PT Petrosea Tbk. (PTRO) – Rp23,62 miliar
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) – Rp21,93 miliar
  • PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) – Rp21,53 miliar
  • PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) – Rp15,30 miliar

Rotasi Sektor dan Tantangan ke Depan

Di tengah antusiasme investor asing terhadap saham perbankan, terdapat fenomena rotasi sektor yang cukup mencolok. Beberapa saham di sektor komoditas dan energi justru menjadi sasaran aksi jual bersih oleh investor asing pada sesi ini.

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mencatatkan nilai jual bersih paling besar, mencapai Rp143,27 miliar. Tekanan jual ini menunjukkan adanya penyesuaian portofolio oleh investor di tengah dinamika harga komoditas global.

Selain TPIA, asing juga melepas saham PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar Rp86,44 miliar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar Rp53,22 miliar. Tekanan jual ini berpotensi memberikan koreksi pada saham-saham terkait apabila minat beli lokal tidak mampu menopang harga.

Secara keseluruhan, kinerja IHSG pada sesi pertama ini menunjukkan ketahanan pasar di tengah perbedaan arus modal di berbagai sektor. Dominasi saham perbankan mampu menjaga indeks tetap di zona hijau, meskipun sektor lain mengalami tekanan jual.

Para pelaku pasar kini menantikan kelanjutan perdagangan sesi kedua dan data ekonomi lanjutan untuk melihat apakah tren penguatan ini dapat dipertahankan hingga penutupan pasar. Stabilitas aliran modal asing dan sentimen data ekonomi domestik akan menjadi penentu utama arah gerak IHSG ke depannya.