Mahasiswa Kritik Budiman Sudjatmiko dalam Diskusi “Indonesia Emas atau Cemas?”

Mahasiswa Kritik Budiman Sudjatmiko
Mahasiswa Kritik Budiman Sudjatmiko

Acara diskusi ilmiah mahasiswa di Semarang mendadak riuh oleh rentetan interupsi. Forum bertajuk “Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini” menjadi panggung adu argumen yang sengit. Kalangan aktivis muda memanfaatkan momen ini untuk menguji konsistensi pejabat publik.

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI, Budiman Sudjatmiko, hadir langsung sebagai pembicara utama. Kehadiran mantan tokoh reformasi tersebut memicu pertanyaan tajam dari para peserta yang hadir di Kafka Forum. Suasana ruang diskusi sempat memanas.

Sejumlah perwakilan mahasiswa menilai visi masa depan negara masih menghadapi banyak ketimpangan di tingkat bawah.

Pertanyaan Kritis Mengenai Konsistensi Mantan Aktivis

Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Semarang, Bima Prayuda, membuka sesi tanya jawab dengan kalimat menukik. Bima mempertanyakan posisi politik Budiman yang kini memilih berada di dalam lingkaran kekuasaan. Perubahan posisi dari luar menjadi bagian dari birokrasi dinilai mengejutkan banyak pihak. Mahasiswa ingin tahu apakah idealisme masa lalu masih terjaga dengan baik.

Pertanyaan tersebut langsung dijawab lugas. Budiman menegaskan bahwa langkah masuk ke pemerintahan adalah bentuk perjuangan dari dalam sistem untuk merancang kebijakan pro-rakyat.

Ketegangan dengan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam

Perdebatan mencapai puncaknya ketika Ketua HMI Komisariat FISIP Undip, Muhammad Rafli Susanto, menyampaikan pandangannya secara meledak-ledak. Rafli mendesak pemerintah untuk tidak hanya fokus pada narasi kemajuan yang bersifat abstrak di atas kertas. Penikmat diskusi menyaksikan langsung bagaimana Rafli meminta kebijakan yang diambil harus bisa menyentuh akar rumput.

Berikut adalah poin tuntutan yang disuarakan oleh gabungan organisasi mahasiswa dalam forum tersebut:

  • Selesaikan konflik agraria petani Pundenrejo.
  • Hentikan penyempitan ruang demokrasi sipil.
  • Evaluasi keterlibatan militer di ranah publik.
  • Tinjau ulang arah Indonesia Emas 2045.

Adu Mulut dan Pembubaran Massa Aksi

Ketegangan tidak dapat dihindari saat Rafli menolak memperpanjang argumen di dalam ruangan karena ingin segera bergabung dengan aksi demonstrasi di jalanan. Budiman yang merasa forum tersebut kurang dihormati akhirnya meminta sang mahasiswa untuk meninggalkan lokasi acara.

Kejadian ini menarik perhatian peserta. Setelah insiden kecil tersebut, jalannya dialog kembali berjalan dengan tertib. Perwakilan dari organisasi lain seperti KAMMI dan GMKI tetap bertahan di lokasi untuk melanjutkan bedah materi pembangunan nasional yang menggabungkan pemikiran para tokoh bangsa.