KRI Marlin-877 Mengevakuasi 52 Korban Kapal Tenggelam KLM Nurul Salsa 01

KRI Marlin-877 dikerahkan untuk mengevakuasi korban kecelakaan kapal KLM Nurul Salsa 01 di Laut Flores. Sebanyak 52 orang ditemukan.

TERKINI24.ID – Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VI mengerahkan kapal perang KRI Marlin-877 untuk melaksanakan operasi penyelamatan intensif di perairan Sulawesi Selatan. Kapal perang ini ditugaskan khusus guna melacak keberadaan serta menyelamatkan penumpang kapal KLM Nurul Salsa 01 yang karam. Peristiwa kecelakaan laut yang menimpa kapal angkutan tersebut terjadi di Laut Flores, dekat wilayah Kepulauan Selayar.

Pengerahan armada militer ini menjadi respons cepat dalam menangani kedaruratan maritim demi meminimalkan jumlah korban jiwa di laut. Sinergi antara unsur TNI Angkatan Laut dan instansi penyelamat sipil segera dijalankan begitu kabar mengenai musibah tersebut terkonfirmasi. Fokus utama dari operasi ini adalah melakukan penyisiran menyeluruh pada titik-titik koordinat yang menjadi lokasi tenggelamnya kapal penumpang tersebut.

Komandan Kodaeral VI Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz menyampaikan keterangan resmi terkait pergerakan taktis pasukannya di lapangan. “Setelah kami dapat informasi tentang kapal penumpang KLM Nurul Salsa 01 di Laut Flores, sebelah selatan Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, prajurit langsung dikerahkan melakukan penyisiran dari dermaga Mako Kodaeral VI ini,” ujar Laksda TNI Andi Abdul Aziz, di Makassar, seperti dilansir Antara, Kamis, 16 Juli 2026.

Kronologi Kerusakan Mesin Hingga Karamnya Kapal

Peristiwa yang menimpa KLM Nurul Salsa 01 bermula pada hari Rabu, 15 Juli 2026, saat fajar menyingsing. Tepat pada pukul 05.00 Wita, kapal bermuatan penumpang tersebut bertolak meninggalkan Pelabuhan Pulau Jampea. Tujuan akhir dari pelayaran komersial rakyat ini adalah Pelabuhan Benteng yang berada di wilayah Selayar.

Perjalanan laut tersebut mendadak berubah menjadi situasi genting beberapa jam setelah kapal lepas jangkar dari pelabuhan asal. Pada pukul 09.30 Wita, mesin utama kapal mengalami kerusakan total secara tiba-tiba di tengah lautan luas. Gangguan fatal tersebut terjadi pada posisi koordinat geografis 06° 41′ 750″ Lintang Selatan dan 120° 22′ 993″ Bujur Timur.

Kondisi di perairan menjadi kian memburuk hanya dalam kurun waktu tiga puluh menit setelah mesin penggerak utama mati. Tepat pada pukul 10.00 Wita, pompa pembuangan air atau mesin alkon turut mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat berfungsi. Akibatnya, air laut mulai merembes masuk tanpa kendali menembus lambung kapal dan memicu kepanikan di atas dek.

Awak kapal beserta penumpang telah berupaya keras mengatasi kebocoran di tengah terjangan gelombang Laut Flores yang tidak bersahabat. Namun, keterbatasan alat membuat volume air yang masuk jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan pembuangan mandiri. Hingga akhirnya, pada pukul 16.00 Wita, kapal dinyatakan tenggelam sepenuhnya pada posisi koordinat 06° 56′ 122″ Lintang Selatan dan 120° 10′ 188″ Bujur Timur.

Mobilisasi Cepat Armada Penyelamat Kodaeral VI

Informasi mengenai musibah pelayaran ini segera diteruskan kepada komando militer setempat setelah laporan awal terverifikasi otoritas sipil. Pihak Mako Kodaeral VI menerima pemberitahuan resmi mengenai karamnya kapal penumpang tersebut dari Kantor SAR Makassar pada pukul 15.50 Wita. Langkah tanggap darurat langsung diambil oleh pimpinan pangkalan dengan menyiapkan unsur armada operasional terbaiknya.

Kodaeral VI langsung memberikan tugas operasi kemanusiaan kepada kru KRI Marlin-877 untuk segera menuju lokasi kedaruratan maritim. Kapal perang andalan ini disiagakan dengan dilengkapi personel penyelamat terlatih, peralatan keselamatan mutakhir, serta dukungan logistik yang memadai. Persiapan matang ini dilakukan guna mengantisipasi dinamisnya medan pencarian di tengah laut lepas.

Guna memperkuat efektivitas penyisiran di lapangan, tim militer berkolaborasi erat dengan instansi keselamatan penerbangan dan pertolongan sipil. Sebanyak lima orang personel dari Kantor SAR Makassar turut serta naik ke atas geladak kapal perang untuk memperkuat tim operasi gabungan. Keterlibatan personel sipil ini memastikan keselarasan taktis selama operasi penyelamatan berlangsung di perairan.

Setelah seluruh persiapan teknis dan logistik dinyatakan siap oleh perwira pangkalan, kapal patroli cepat ini bersiap lepas sandar. Tepat pada pukul 20.03 Wita, kapal perang tersebut mulai berlayar meninggalkan Dermaga Layang Mako Kodaeral VI. Armada ini bergerak dengan kecepatan penuh menuju titik koordinat terakhir jatuhnya KLM Nurul Salsa 01.

Hasil Evakuasi dan Penyisiran Titik Koordinat

Perjalanan malam hari membawa armada penyelamat tiba di zona terdampak pada dini hari berikutnya untuk memulai penyisiran. Pada hari Kamis, 16 Juli 2026, pukul 02.00 Wita, KRI Marlin-877 telah sampai di kawasan perairan Pulau Polassi. Setibanya di lokasi, tim langsung mengumpulkan data lapangan dan melaksanakan tindakan pemantauan awal di sekitar perairan.

Operasi pelacakan yang dimulai sejak dini hari tersebut berlanjut secara intensif hingga matahari terbit. Memasuki pukul 07.00 Wita, kapal perang tersebut telah merapat tepat di titik tenggelamnya KLM Nurul Salsa 01. Di lokasi tersebut, seluruh kru gabungan menjalankan pencarian mendalam di atas permukaan air selama dua jam penuh.

Berdasarkan data mutakhir yang berhasil diverifikasi oleh otoritas gabungan hingga pukul 11.00 Wita, jumlah korban selamat cukup banyak. Sebanyak 52 orang dilaporkan telah berhasil dievakuasi dari kedaruratan laut tersebut melalui bantuan berbagai pihak. Keterlibatan nelayan lokal dan kapal niaga yang melintas sangat membantu kelancaran pemindahan para korban ke daratan terdekat.

Berikut rincian data korban yang berhasil dievakuasi oleh tim gabungan di lapangan:

  • Enam orang ditolong oleh nelayan setempat dan dibawa ke Pulau Polassi.
  • Sebanyak 46 orang lainnya dievakuasi oleh KLM Harapan Kita ke Pulau Jampea.
  • Dari total 46 orang tersebut, sebanyak 45 korban dinyatakan selamat.
  • Terdapat satu orang korban yang dilaporkan meninggal dunia dalam proses pemindahan.

Pencarian Korban Hilang dan Perluasan Sektor Operasi

Meskipun puluhan korban telah diselamatkan, pekerjaan rumah tim gabungan masih menyisakan tantangan yang cukup besar di laut. Setelah dilakukan pencocokan manifes awak dan penumpang sementara, masih terdapat 16 orang yang belum diketahui keberadaannya. Otoritas menegaskan bahwa data kehilangan ini masih bersifat sementara dan terus diverifikasi bersama pemerintah daerah serta keluarga.

Pihak pangkalan militer terus menjaga komunikasi intensif dengan unsur-unsur di lapangan guna memastikan kelancaran seluruh tahapan operasi. Laksda TNI Andi Abdul Aziz memaparkan posisi terkini armada penyelamat yang sedang bersandar di pulau terdekat. “KRI Marlin-877 kini telah tiba di Pelabuhan Laut Jampea untuk berkoordinasi lanjutan sekaligus memastikan kondisi korban yang telah dievakuasi ke darat,” terang Laksda TNI Andi Abdul Aziz, Kamis, 16 Juli 2026.

Langkah koordinasi di darat ini bertujuan untuk menyamakan data para penyintas dengan laporan kehilangan dari posko pengaduan masyarakat. Tim kesehatan juga dikerahkan untuk memeriksa kondisi fisik para penumpang selamat yang telah dievakuasi ke Pulau Jampea.

Setelah pendataan di daratan selesai, tim penyelamat bersiap melakukan penyisiran ulang dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Sektor operasi baru dirancang guna mengantisipasi pergeseran posisi korban akibat faktor alam seperti arus bawah laut.

Rencana operasi penyisiran ulang ini mencakup beberapa titik penting yang menjadi alur pelayaran utama. Wilayah penyisiran meliputi lokasi gangguan mesin, titik tenggelam kapal, perairan Pulau Polassi, serta jalur lintasan menuju Pulau Jampea.

Pimpinan komando laut menegaskan dedikasi penuh seluruh prajurit dalam mengemban misi pencarian ini sampai tuntas tanpa batasan waktu tertentu. “Kami tidak akan berhenti mencari sampai seluruh nyawa ditemukan. Kami juga membuka saluran koordinasi dengan seluruh nelayan dan kapal yang melintas untuk saling bertukar informasi demi keberhasilan operasi ini,” ucap Laksda TNI Andi Abdul Aziz.

Operasi kemanusiaan yang dipimpin oleh KRI Marlin-877 ini menegaskan pentingnya respons cepat dalam keselamatan maritim. Sinergi antara TNI Angkatan Laut, Kantor SAR Makassar, dan nelayan diharapkan segera membuahkan hasil bagi 16 korban yang masih hilang.