Terkini24.id – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komentar bernada candaan terkait kedudukan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang tidak berada di bawah naungan Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Pernyataan tersebut terlontar saat Presiden menghadiri kegiatan panen raya bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7).
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, serta Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Momen humor itu muncul ketika Presiden Prabowo mengenang masa tugasnya sebagai Menteri Pertahanan pada era pemerintahan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Daftar Isi
Momen Humor Terkait Kelembagaan
Presiden Prabowo menceritakan pengalamannya saat dihadapkan pada pilihan kendaraan operasional bagi TNI. Kala itu, ia menekankan batasan kewenangannya sebagai Menteri Pertahanan yang tidak mencakup ranah kepolisian, sehingga ia tidak memiliki wewenang untuk mengatur institusi tersebut.
“Waktu saya Menteri Pertahanan, disodorkan, ‘Pak, TNI,’ waktu itu saya Menhan ya, jadi saya enggak bisa ngurus Polri, sorry, polisi enggak mau di bawah Menteri Pertahanan sih,” ungkap Presiden Prabowo yang disambut gelak tawa para hadirin.
Pernyataan tersebut mencairkan suasana di tengah acara panen raya yang dihadiri oleh jajaran petinggi militer dan kepolisian. Gelak tawa para tamu undangan menandai momen ringan dalam rangkaian agenda kerja Presiden di Jawa Timur tersebut.
Pilihan Kendaraan Dalam Negeri
Pembahasan mengenai kedudukan kelembagaan itu berlanjut ke isu pengadaan kendaraan operasional bagi perwira TNI. Presiden menuturkan bahwa ia sempat diberikan dua opsi pilihan kendaraan dengan kualitas serta harga yang berbeda.
Pilihan pertama adalah kendaraan buatan luar negeri yang ditawarkan dengan harga lebih terjangkau dan kualitas mumpuni. Pilihan kedua adalah kendaraan taktis Maung produksi PT Pindad yang harganya lebih tinggi, namun merupakan hasil karya anak bangsa.
Presiden memilih untuk menggunakan produk buatan dalam negeri, yakni Maung produksi PT Pindad, meskipun harga yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan opsi lainnya. Ia menegaskan pentingnya mendukung industri pertahanan nasional untuk kebutuhan operasional negara.
“Ya sudah saya pilih yang mahal, agak mahal, tetapi buatan anak Indonesia sendiri, yaitu Maung. Yang sekarang dipakai perwira-perwira kita, sekarang pakai Maung,” tambahnya.
Perbedaan Hierarki TNI dan Polri
Untuk memberikan pemahaman yang jelas, terdapat perbedaan mendasar antara posisi TNI dan Polri dalam struktur pemerintahan Indonesia. TNI secara administratif berada di bawah Kementerian Pertahanan, terutama terkait perencanaan anggaran, pengembangan kekuatan, serta tata kelola organisasi militer.
Di sisi lain, Polri memiliki kedudukan yang berbeda dalam sistem pemerintahan Indonesia. Sesuai dengan aturan yang berlaku, Polri berada langsung di bawah Presiden sebagai kepala negara dan pemerintahan, tanpa melalui perantara kementerian.
Posisi ini membuat mekanisme koordinasi Polri memiliki alur yang berbeda dibandingkan dengan TNI. Hal tersebut yang menjadi latar belakang candaan Presiden Prabowo saat menyinggung mengapa ia tidak memiliki kewenangan langsung atas institusi kepolisian ketika menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam agenda panen raya tersebut menegaskan sinergitas antara TNI dan pemerintah dalam menjaga kedaulatan pangan nasional. Pernyataan santai Presiden mencerminkan keakraban sekaligus penegasan terhadap perbedaan posisi kelembagaan antara aparat penegak hukum dan angkatan bersenjata di Indonesia.