Prediksi IHSG Besok 13 Juli dan Rekomendasi Saham

Memantau Pergerakan IHSG
Memantau Pergerakan IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan Jumat (10/7) dengan kenaikan 0,20% ke level 5.924,36. Prediksi IHSG besok 13 Juli menunjukkan pasar saham domestik berpotensi bergerak konsolidasi dengan kecenderungan penguatan terbatas di tengah bayang-bayang sentimen global.

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai penguatan IHSG saat ini didorong oleh aksi technical rebound pascakoreksi serta optimisme kebijakan domestik. Investor kini juga memperhatikan status Indonesia dalam daftar pantauan Frontier Market oleh S&P Dow Jones.

Terkait status tersebut, Reza menyatakan dampaknya terhadap pasar modal Indonesia tidak terlalu besar. “Namun, dampaknya relatif terbatas karena perhatian investor asing masih lebih tertuju pada evaluasi MSCI dan FTSE Russell yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap arus dana pasif,” kata Reza kepada Kontan, Jumat (10/7/2026).

Sentimen Global dan Pergerakan Komoditas

Selain faktor domestik, pelaku pasar harus mencermati dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian. Konflik di Timur Tengah kembali memicu volatilitas harga minyak dunia.

Reza menyoroti narasi higher for longer dari FOMC Minutes yang memperkuat posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. “Selain itu, kembali memanasnya konflik AS-Iran meningkatkan harga minyak dunia dan menjaga volatilitas pasar tetap tinggi,” ujar Reza.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, turut mencermati pergerakan IHSG yang sempat menguat 0,83% sepanjang pekan lalu. Kekhawatiran pasar dipicu oleh depresiasi rupiah ke level Rp18.100 per dolar AS serta fluktuasi harga komoditas energi.

Mengenai komoditas, Herditya memberikan catatannya. “Pergerakan harga komoditas dunia, dimana terpantau harga minyak mentah menguat di US$ 71 per barel dan harga emas yang melandai di US$ 4.106 per ons troi,” ujar Herditya.

Proyeksi Indeks dan Rekomendasi Saham

Reza memperkirakan IHSG berada pada kisaran support 5.850–5.880 dan resistance 6.000–6.050. Pasar akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat (US CPI) yang akan dirilis mendatang.

Apabila data inflasi menunjukkan angka lebih rendah dari ekspektasi, peluang arus dana masuk ke pasar saham emerging markets akan terbuka lebar. Sebaliknya, inflasi energi yang tinggi justru berisiko menekan pergerakan indeks.

“Sebaliknya, apabila data inflasi lebih rendah dari ekspektasi pasar, peluang risk-on dan arus dana ke pasar saham emerging markets, termasuk Indonesia, akan semakin terbuka,” katanya. Herditya sendiri memproyeksikan IHSG akan menguat terbatas dengan support 5.904 dan resistance 5.939.

Berikut adalah daftar saham yang direkomendasikan analis untuk dicermati investor:

  • ARCI: Target harga Rp1.115–Rp1.225 (MNC Sekuritas) dan trading buy Rp1.020–Rp1.050 (BRI Danareksa).
  • BMRI: Target harga Rp4.180–Rp4.270.
  • TAPG: Target harga Rp1.625–Rp1.700.
  • ELSA: Target harga Rp670–Rp685.
  • PGAS: Target harga Rp1.480–Rp1.520.

Pasar saham Indonesia diprediksi masih akan berada dalam fase konsolidasi pada perdagangan esok hari. Kinerja indeks sangat bergantung pada respons pelaku pasar terhadap rilis data inflasi AS serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di tengah situasi geopolitik yang fluktuatif.

Catatan:

Berita ini bukan untuk mengajak pembaca investasi di bidang tertentu saja. Semua dikembalikan kepada keputusan masing-masing.