BMKG Prediksi Potensi Hujan Masih Terjadi di Wilayah Ini

BMKG melaporkan musim kemarau telah menjangkau 60,5% wilayah Indonesia. Meski kondisi kering mendominasi, potensi hujan tetap ada akibat dinamika atmosfer.

Terkini24.idBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa musim kemarau di Indonesia kini semakin meluas. Berdasarkan data Dasarian I Juli 2026, fenomena ini telah mencakup 423 Zona Musim atau sekitar 60,5% dari total wilayah nasional.

Sebagian besar wilayah yang terdampak meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, serta sejumlah kawasan di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Dominasi kondisi iklim saat ini ditandai dengan curah hujan rendah yang melanda 72,38% wilayah, sementara curah hujan menengah tercatat sebesar 25,99%.

Kondisi kering ini diperkuat oleh dinamika iklim global, di mana peristiwa El Nino terpantau aktif dengan nilai anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 mencapai +1,88. Kondisi tersebut memicu kecenderungan berkurangnya curah hujan secara signifikan di banyak daerah.

Meluasnya Dampak Musim Kemarau

Berdasarkan analisis sifat hujan, sekitar 70,08% wilayah Indonesia mengalami kondisi di bawah normal. Hanya 12,86% wilayah yang berada pada kategori normal, 8,29% atas normal, dan 8,78% jauh di atas normal.

Tren ini diprediksi akan terus berlanjut hingga Dasarian III Juli 2026, di mana curah hujan rendah diprakirakan meliputi 76,54% wilayah. Sementara itu, peluang curah hujan menengah hanya berkisar pada 23,36% dan kategori tinggi hanya 0,09%.

Indeks Nino3.4 relatif mingguan menunjukkan angka +1,47 dengan rata-rata 30 hari SOI sebesar -27,4. Kondisi ini mengindikasikan bahwa atmosfer masih berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dinamika Atmosfer dan Peluang Hujan

Meskipun kondisi kering mendominasi, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi secara lokal. Pada 13–14 Juli lalu, wilayah seperti Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat curah hujan tinggi mencapai 75,0 mm per hari, sementara Kota Padang mencatat 55,5 mm per hari.

Fenomena ini dipengaruhi oleh aktivitas spasial MJO serta Gelombang Kelvin yang melintasi Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Aktivitas spasial MJO juga diprediksi masih aktif di wilayah Riau, Kepulauan Riau, serta Kalimantan Barat, Timur, dan Utara.

Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial turut berperan dalam meningkatkan potensi hujan di sejumlah daerah. Kondisi tersebut didukung dengan adanya belokan angin, konvergensi, serta suhu muka laut yang relatif hangat di beberapa perairan.

Prakiraan Cuaca Sepekan ke Depan

BMKG memetakan potensi cuaca untuk beberapa hari ke depan. Berikut adalah perincian wilayah yang perlu diwaspadai:

Periode 17–19 Juli 2026:

  • Potensi hujan sedang: Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Pegunungan, dan Papua.
  • Potensi angin kencang: Gorontalo, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Papua Barat.

Periode 20–23 Juli 2026:

  • Potensi hujan sedang: Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, Papua Pegunungan, dan Papua.
  • Potensi angin kencang: Banten dan Jawa Barat.

Langkah Antisipasi Masyarakat

Masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kesehatan fisik di tengah cuaca panas yang melanda selama musim kemarau. Penggunaan tabir surya dan menjaga kecukupan cairan tubuh sangat disarankan, terutama bagi individu yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.

Pemerintah daerah dan warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan. Aktivitas pembakaran sampah atau pembersihan lahan dengan api sangat tidak dianjurkan, terutama di area gambut, semak belukar, dan lahan kering yang mudah terbakar.

Selain itu, potensi pohon tumbang, baliho roboh, atau sambaran petir tetap harus diwaspadai selama masih terjadi hujan lokal. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi terkini melalui laman resmi BMKG atau aplikasi InfoBMKG agar dapat melakukan langkah mitigasi yang tepat guna mengurangi risiko dampak cuaca ekstrem.