Sungai Barito Kering Bak Gurun Pasir, BMKG Peringatkan Kelumpuhan Logistik dan Ekonomi

BMKG mengungkap fenomena Sungai Barito kering akibat kemarau ekstrem, memicu lumpuhnya transportasi sungai serta ancaman ekonomi di Kalteng.

Fenomena surutnya Sungai Barito di Kalimantan Tengah (Kalteng) mencapai tingkat mengkhawatirkan hingga menyerupai hamparan gurun pasir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa kondisi ini merupakan dampak langsung dari kemarau ekstrem serta penurunan intensitas curah hujan yang signifikan.

Penyusutan debit air yang terjadi secara meluas tidak hanya mengubah bentang alam sungai, tetapi juga memicu kelumpuhan pada sektor transportasi air, pasokan logistik, hingga roda ekonomi regional.

Penurunan Debit Air dan Dampak Operasional

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, membeberkan bahwa penurunan debit air sungai paling parah terpantau di kawasan Muara Teweh. Ketinggian air sungai menyusut hingga menyisakan sekitar 0,6 meter dari batas normal yang biasanya berada di kisaran 5 hingga 11,5 meter.

Dampak dari fenomena ini merusak jalur transportasi sungai utama di Kalimantan Tengah:

  • Transportasi Berat Lumpuh: Kapal pengangkut berukuran besar, tongkang batu bara, tangki minyak, hingga angkutan kayu terhenti total dan tidak dapat melaut.
  • Armada Terbatas: Hanya perahu kecil sejenis jukung yang masih dapat beroperasi dengan akses ruang gerak yang sangat terbatas.
  • Munculnya Gosong Pasir: Hamparan pasir dan daratan baru bermunculan di tengah aliran air, seperti yang terlihat jelas di bawah Jembatan Kalahien, Kabupaten Barito Selatan.

Warga setempat melaporkan bahwa penyusutan aliran sungai mulai terasa parah sejak awal Agustus. Dangkalnya dasar sungai membuat aliran terpecah dan tampak seperti pantai di tengah daratan.

Faktor Penyebab Kemarau Ekstrem

BMKG mencatat sejumlah faktor utama yang melatarbelakangi mengeringnya salah satu sungai terpanjang di Indonesia ini. Kombinasi faktor cuaca lokal dan fenomena iklim regional menjadi pemicu utamanya:

  • Kemarau Panjang: Hujan dengan intensitas tinggi telah berakhir sejak lama, sementara hujan ringan yang sesekali turun tidak cukup untuk menambah volume air sungai.
  • Penurunan Pasokan Air Hulu: Rendahnya curah hujan di Kalteng memotong suplai pasokan air secara drastis dari hulu Pegunungan Schwaner.
  • Pola Iklim Ekstrem Regional: Fenomena serupa juga melanda beberapa sungai besar lain di Pulau Kalimantan, yang mengindikasikan adanya pergeseran pola iklim ekstrem.

Potensi Kerugian Ekonomi dan PDB Daerah

Guswanto memberikan peringatan keras terkait ancaman jangka panjang yang dapat mengintai jika tren kekeringan ini terus berlanjut. Lumpuhnya navigasi kapal tongkang di sepanjang Sungai Barito berpotensi menahan laju distribusi komoditas utama daerah.

Terganggunya mobilitas hasil tambang dan hasil perkebunan dikhawatirkan menurunkan kontribusi kedua sektor vital tersebut terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) daerah.

Pihak-pihak terkait diimbau segera mengantisipasi dampak turunan dari krisis air ini agar hambatan pasokan logistik dan bahan bakar tidak memicu permasalahan ekonomi yang lebih luas.