Saham TRUK Melonjak ARA 5 Hari Beruntun Pasca Akuisisi Investor Baru

Saham PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) mengalami lonjakan harga hingga ARA selama lima hari berturut-turut usai akuisisi 20% saham oleh investor baru.

TERKINI24.ID – Pergerakan saham PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) kembali menjadi pusat perhatian pelaku pasar modal pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Saham perseroan berhasil melanjutkan tren penguatan yang signifikan di tengah masuknya dua pemegang saham baru yang mencaplok total 20 persen kepemilikan saham.

Laju kenaikan harga saham emiten transportasi dan logistik ini dinilai cukup fenomenal oleh banyak pihak. Pasalnya, lonjakan harga saham TRUK yang agresif di Bursa Efek Indonesia terjadi ketika kondisi kinerja keuangan internal perseroan masih dibayangi oleh catatan kerugian.

Pada perdagangan sesi I, saham TRUK kembali menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) setelah melonjak 9,94 persen ke posisi Rp1.715 per lembar saham. Tren penguatan ini melengkapi catatan impresif saham TRUK yang berturut-turut menguat 9,86 persen pada 21 September, 9,65 persen pada 18 September, 9,75 persen pada 17 September, serta 9,77 persen pada 16 September.

Struktur Kepemilikan Baru

Sumbu utama dari reli tajam harga saham TRUK berasal dari adanya aksi korporasi pengambilalihan porsi saham oleh investor baru. Berdasarkan dokumen keterbukaan informasi, PT Catur Dharma Anugerah Surya resmi melepaskan seluruh porsi kepemilikannya sebanyak 87 juta lembar saham atau setara 20 persen pada 18 September 2026.

Porsi saham yang dilepas tersebut langsung diserap oleh dua pihak investor. PT Pukul Rata Kanan milik Gabriel Rey mengambil alih 65,25 juta lembar saham atau setara 15 persen. Sementara itu, PT Hakimson Growth Capital milik Andry Hakim mengamankan 21,75 juta lembar saham atau setara 5 persen.

Seluruh rangkaian transaksi pengambilalihan tersebut disepakati pada tingkat harga pelaksanaan Rp428 per lembar saham. Dengan patokan harga tersebut, total nilai transaksi yang dikucurkan oleh kedua investor baru tersebut mencapai Rp37,24 miliar, yang sekaligus membuat kepemilikan Catur Dharma di TRUK menjadi nihil.

Disparitas Harga Pasar

Aksi masuknya pemegang saham baru dalam jumlah besar ini memicu respon tinggi dari pasar. Hal tersebut lantaran harga perdagangan saham TRUK di lantai bursa saat ini telah bergerak naik tajam jauh melampaui harga transaksi akuisisi yang disepakati sebelumnya.

Dengan harga penutupan TRUK yang menyentuh level Rp1.715 per lembar saham pada 22 September 2026, harga di pasar sekunder tercatat telah melambung sekitar 301 persen dari harga transaksi akuisisi sebesar Rp428 per lembar saham.

Gapping atau selisih harga yang sangat lebar ini memicu perhatian kalangan analis pasar modal. Para pelaku pasar kini berspekulasi terkait arah kebijakan serta rencana strategis yang bakal dibawa oleh manajemen baru ke depan.

Tantangan Kinerja Keuangan

Di tengah reli harga saham yang beruntun di lantai bursa, laporan keuangan TRUK sebenarnya belum menunjukkan sinyal pemulihan fundamental yang solid.

Sepanjang periode semester I-2026, perseroan membukukan raihan pendapatan sebesar Rp19,24 miliar. Perolehan ini cenderung stagnan bila dibandingkan dengan pencapaian periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka Rp19,62 miliar.

Dari sisi profitabilitas, TRUK masih harus menanggung rugi bersih sebesar Rp3,76 miliar pada semester I-2026. Angka kerugian tersebut justru membengkak bila dibandingkan dengan catatan rugi bersih pada semester I-2025 yang mencapai Rp3,13 miliar.

Prospek Pemulihan Fundamental

Kondisi tertekan pada paruh pertama tahun ini melanjutkan tren negatif yang telah membayangi operasional perusahaan pada tahun sebelumnya. Pada sepanjang tahun buku 2025, pendapatan TRUK tercatat berada di level Rp42,4 miliar atau mengalami penurunan 16,7 persen dibandingkan tahun 2024. Sementara itu, rugi bersih perseroan membengkak menjadi Rp6,1 miliar dari sebelumnya Rp4,7 miliar.

Fakta tersebut mengindikasikan bahwa lonjakan harga saham TRUK saat ini murni didorong oleh sentimen aksi korporasi dan belum ditopang oleh perbaikan kinerja laba yang nyata.

Pelaku pasar dan investor kini menantikan langkah serta strategi dari Gabriel Rey dan Andry Hakim dalam mentransformasi bisnis TRUK agar mampu mencatatkan pemulihan fundamental secara berkelanjutan.