Jakarta, Terkini24.id – Laju pergerakan saham BUMI milik PT Bumi Resources Tbk melonjak sebesar 6,55 persen menuju posisi Rp179 pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026). Lonjakan harga emiten batu bara gabungan Grup Bakrie dan Salim ini diiringi aksi beli dari investor domestik maupun pemodal asing.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat volume transaksi perdagangan saham berkode BUMI tersebut menembus angka 4,55 miliar lembar saham. Total frekuensi perdagangan mencatatkan angka 72.892 kali transaksi dengan akumulasi nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp799,40 miliar.
Investor asing turut gencar melakukan aksi borong saham dengan mencatatkan net buy senilai Rp88,59 miliar. Angka aktivitas ini memperlihatkan lonjakan tajam jika dibandingkan dengan pergerakan pada perdagangan Selasa (4/8/2026).
Pada hari sebelumnya, volume perdagangan saham perusahaan pertambangan ini hanya menyentuh 1,34 miliar lembar saham. Nilai transaksinya kala itu hanya mencapai Rp224,53 miliar dengan pergerakan harga yang cenderung bertahan stagnan.
Melihat geliat positif transaksi tersebut, Phintraco Sekuritas memasukkan nama perseroan ke daftar saham pilihan untuk perdagangan Kamis (6/8/2026). Sementara CGS International Sekuritas mematok level resistance pertama di angka 184 dan resistance kedua pada posisi 188.
CGS International Sekuritas menentukan batas support pertama saham BUMI berada pada level 172 serta support kedua di kisaran 164. Penguatan volume transaksi ini berlangsung setelah manajemen menyampaikan jawaban resmi atas permintaan klarifikasi otoritas bursa.
Manajemen perseroan sebelumnya menerima surat konfirmasi dari BEI terkait kabar rencana pengambilalihan perusahaan pertambangan asal Australia, Loyal Metals Limited. Direktur Bumi Resources RA Sri Dharmayanti menegaskan pihaknya telah menandatangani scheme implementation deed (SID) sebagai dasar kesepakatan awal akuisisi.
“Sampai dengan saat ini, proses akuisisi masih berada pada tahap pemenuhan persyaratan sehingga belum terjadi pengalihan dana maupun saham,” kata Sri dalam keterbukaan informasi dikutip Rabu (5/8/2026).
Proses penyelesaian transaksi akuisisi tersebut bergantung pada pemenuhan persyaratan pendahuluan. Hal ini mencakup persetujuan pemegang saham Loyal Metals Limited serta kepatuhan pada aturan hukum yang berlaku di Australia.
“Persyaratan umum lainnya adalah jika, selama persyaratan-persyaratan tersebut belum seluruhnya terpenuhi, maka transaksi akuisisi belum dapat dinyatakan selesai dan belum menimbulkan akibat hukum apapun atas perpindahan kepemilikan Loyal Metals Limited kepada perseroan,” terang Sri.
Loyal Metals Limited menjadi entitas eksplorasi sumber daya yang tercatat di Australian Securities Exchange (ASX). Perusahaan berbasis di Australia tersebut berfokus pada proyek mineral kritis, tembaga, emas, termasuk Highway Reward Copper-Gold Mine di Queensland serta aset litium.