Kisah menarik datang dari Howard Graham Buffett, putra kedua miliarder dunia Warren Buffett. Bukannya mengikuti jejak sang ayah yang perkasa di dunia investasi dan keuangan, Howard justru memilih jalan hidup yang bertolak belakang.
Pria yang lebih tertarik berkutat dengan tanah dan tanaman ini memutuskan menjadi petani serta aktivis konservasi tanah. Sebagian besar masa dewasanya dihabiskan untuk mengolah ladang jagung dan kedelai di Nebraska serta Illinois, Amerika Serikat.
Keputusan bisnis antara ayah dan anak ini melahirkan kesepakatan yang sangat tidak biasa. Gaya negosiasi sang investor kawakan bahkan ikut mengatur urusan timbangan badan sang anak dalam kontrak sewa lahan.
Kontrak Sewa Lahan Unik Berbasis Berat Badan
Pada 1986, sang ayah membeli lahan pertanian seluas 400 akre di Nebraska seharga USD280.000 dari FDIC saat harga tanah merosot. Lahan tersebut kemudian disewakan kepada Howard untuk dikelola secara mandiri.
Kesepakatan sewa lahan ini sama sekali jauh dari kesan nepotisme atau kemudahan fasilitas keluarga. Howard diwajibkan membayar biaya sewa tahunan sebesar 5% ditambah persentase dari pendapatan kotor hasil tani.
Besaran persentase pendapatan kotor tersebut berkisar antara 22% atau 26%, tergantung pada berat badan Howard. Batas toleransi timbangan yang ditetapkan sang ayah adalah 182,5 pon atau sekitar 82,7 kilogram.
Jika berat badan Howard berada di batas tersebut atau lebih rendah, persentase potongan sewa menjadi lebih murah. Sebaliknya, jika timbangannya melebihi batas tersebut, persentase sewa langsung melonjak naik.
Howard sempat berseloroh mengenai klausul unik dalam wawancara bersama Fortune. Ia menyebut aturan tersebut sebagai program diet versi keluarga mereka.
Memilih Jalur Pertanian Dibandingkan Dunia Keuangan
Howard sebenarnya tidak asing dengan struktur dunia korporasi. Ia telah menjabat sebagai anggota dewan direksi di Berkshire Hathaway sejak 1993 dan memegang posisi senior di perusahaan lain.
Meski begitu, dunia pertanian tetap menjadi fokus utama perjalanan karirnya. Luas area garapannya meluas hingga mengelola lahan seluas 1.500 akre di Pana, Illinois.
Minatnya berfokus pada teknik no-till farming atau metode pertanian tanpa olah tanah. Teknik ini meminimalkan gangguan mekanis pada struktur tanah untuk menjaga kesuburan alaminya secara berkelanjutan.
Howard meyakini metode tersebut terbukti memberikan keuntungan nyata bagi ekosistem dan operasional. Metode tanpa olah tanah terbukti mampu menghemat penggunaan bahan bakar minyak serta mengurangi jam kerja mesin traktor di ladang.
Lewat yayasan pribadinya, Howard mendanai berbagai riset skala besar terkait ketahanan pangan dan konservasi tanah. Fasilitas penelitiannya tersebar di beberapa wilayah seperti Illinois, Nebraska, hingga Arizona.
Rencana Suksesi Kerajaan Bisnis Berkshire Hathaway
Pilihan hidup Howard membuat sang ayah merancang peran khusus untuknya di Berkshire Hathaway. Ia tidak pernah disiapkan untuk menjadi Chief Executive Officer (CEO) yang mengurus operasional harian perusahaan.
Sang ayah memproyeksikan Howard untuk mengisi posisi pimpinan non-eksekutif guna menjaga nilai kebudayaan perusahaan. Howard menyetujui peran tersebut selama tanggung jawab baru itu tidak menghambat aktivitas utamanya di ladang.
Masa transisi kepemimpinan di Berkshire Hathaway sendiri telah memasuki babak baru. Greg Abel resmi diangkat menjadi CEO baru sejak 1 Januari 2026 untuk menggantikan posisi sang pendiri.
Dokumen resmi perusahaan tahun 2026 menyebutkan keinginan sang pendiri agar anggota keluarga mengisi jabatan pimpinan non-eksekutif setelah dirinya wafat. Keputusan akhir mengenai posisi tersebut nantinya berada di tangan dewan direksi.
Tugas pimpinan non-eksekutif fokus pada perlindungan budaya dan prinsip bisnis yang dibangun puluhan tahun. Sosok yang diproyeksikan menjaga warisan nilai sang miliarder dunia ini bukanlah seorang pengusaha keuangan, melainkan seorang petani.