Presiden FIFA dari Negara Mana? Kontroversi Yang Kini Disorot Parlemen Eropa

Presiden FIFA
Presiden FIFA

Mungkin Anda bertanya-tanya, presiden FIFA dari negara mana? Gianni Infantino adalah administrator sepak bola kelahiran Brig, Swiss, yang juga memegang kewarganegaraan Italia. Kini, pria yang menjabat sejak 2016 itu tengah menghadapi tekanan berat dari Parlemen Eropa terkait kasus pembatalan sanksi pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Keputusan FIFA untuk menangguhkan hukuman kartu merah tersebut memicu reaksi keras karena dianggap tidak sesuai dengan statuta organisasi. Sejumlah anggota Parlemen Eropa menuding ada pengaruh politik di balik keputusan tersebut.

Desakan Investigasi Parlemen Eropa

Kontroversi bermula ketika Folarin Balogun menerima kartu merah dalam laga Amerika Serikat melawan Bosnia dan Herzegovina pekan lalu. Berdasarkan aturan baku, pemain seharusnya menjalani skorsing satu pertandingan, yang berarti ia harus absen pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 melawan Belgia. Namun, FIFA secara mengejutkan membatalkan sanksi tersebut melalui mekanisme hukum yang belum pernah digunakan sebelumnya.

Langkah ini memicu kemarahan dari sekelompok anggota Parlemen Eropa (MEP) yang menuntut transparansi. Mereka telah meluncurkan surat resmi kepada 27 asosiasi sepak bola negara anggota Uni Eropa untuk mendesak investigasi. Berikut adalah poin utama desakan para anggota Parlemen Eropa tersebut:

  • Meminta asosiasi sepak bola Eropa segera turun tangan.
  • Mendesak FIFA untuk membuka proses pengambilan keputusan dalam kasus Balogun.
  • Meminta pertanggungjawaban pejabat senior FIFA jika ditemukan pelanggaran netralitas politik.
  • Memastikan aturan disiplin turnamen ditegakkan tanpa pandang bulu.

“Kami merasa sudah waktunya bagi asosiasi sepak bola Eropa, yang semuanya merupakan anggota FIFA, untuk turun tangan dan meminta FIFA menyelidiki proses pengambilan keputusan dalam kasus Balogun,” bunyi surat yang diperoleh Euronews.

Respons Pihak Terkait dan Tudingan Politik

Kritik tajam datang dari anggota Parlemen Eropa, Barry Andrews, yang menilai bahwa integritas FIFA telah mencederai prinsip keadilan. Ia secara terbuka menyatakan bahwa tindakan organisasi pimpinan Infantino tersebut sangat mengecewakan. Andrews bahkan menyebut langkah tersebut sebagai tindakan yang merusak citra sepak bola dunia.

“Once again, we see Infantino and FIFA giving in to the demands of the Trump administration,” ungkap Andrews kepada Euronews. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai “a disgrace and a perversion of justice”.

Sentimen negatif juga datang dari para ahli dan otoritas olahraga lainnya. Komisioner Eropa untuk bidang olahraga, Glenn Micallef, secara terbuka melabeli pencabutan sanksi tersebut sebagai sebuah kesalahan. Senada dengan itu, mantan Direktur Komunikasi dan Urusan Publik UEFA, William Gaillard, menyoroti pelanggaran prosedur yang terjadi. Menurutnya, tindakan FIFA tersebut merupakan penyimpangan serius dari aturan yang mereka buat sendiri.

“It is completely contrary to FIFA’s rules and statutes… and in my opinion is a scandal,” ujar Gaillard kepada Euronews.

Situasi ini semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui sempat berkomunikasi dengan Gianni Infantino perihal kartu merah tersebut. Meski membantah meminta perlakuan khusus, Trump berterima kasih kepada Infantino karena telah “membalikkan ketidakadilan besar”.

Di sisi lain, FIFA tetap bersikeras bahwa badan disiplin mereka bekerja secara independen tanpa intervensi pihak luar. UEFA dan Federasi Sepak Bola Belgia kini tetap menuntut penjelasan lebih lanjut atas preseden buruk yang dianggap tidak dapat dibenarkan ini.