Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak variatif cenderung tertekan pada perdagangan hari ini. Pergerakan pasar keuangan domestik akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen internal maupun kondisi ekonomi makro internasional.
Kondisi pasar saat ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam menentukan langkah investasi. Peluang pergerakan indeks masih sangat terbuka untuk menembus batas bawah dalam rentang tertentu.
Oleh karena itu, kecermatan dalam merespons arah pasar menjadi hal yang sangat penting. Para pemodal disarankan memantau dinamika teknikal serta rilis agenda kebijakan ekonomi yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Indeks Berpotensi Menguji Level Support
Berdasarkan analisis teknikal terkini, prediksi IHSG hari ini berpotensi bergerak menguji rentang support di level 6.200 hingga 6.180. Koreksi ini terjadi setelah indeks domestik belum mampu bertahan di area resisten terdekatnya.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini menyebutkan bahwa pergerakan indeks akan dipengaruhi sentimen aksi tunggu pemodal terhadap hasil rapat dewan gubernur Bank Indonesia 22–23 September, khususnya respons BI terhadap tekanan Rupiah dan kenaikan yield global, dengan ekspektasi pasar masih mengarah pada hold BI Rate 5,75% dan optimalisasi intervensi valas.
Laju indeks, terang BRI Danareksa Sekuritas juga akan dipengaruhi pergerakan harga minyak, perkembangan konflik Timur Tengah, kebijakan China, serta pertemuan Trump–Xi yang berpotensi memengaruhi sentimen perdagangan global dan komoditas.
“Secara teknikal, IHSG telah breakdown dari pola rising wedge dan kembali berada di bawah MA20 6.410, sementara MACD masih menunjukkan bearish crossover dengan histogram negatif yang melebar,” tulisnya.
Wall Street Melesat dan Minyak Turun
Di sisi lain, bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street berhasil ditutup menguat signifikan pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones menguat 0,71%, S&P 500 melonjak 1,49%, serta Nasdaq mencatat kenaikan tajam hingga 2,26%.
Lonjakan bursa AS tersebut didorong oleh melandainya harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis Brent terpantau melorot hingga ke bawah level US$ 100 per barel, yang memberikan angin segar bagi bursa global.
Kendati bursa global menguat, perdagangan IHSG sebelumnya ditutup merosot 56,43 poin atau turun 0,88% ke level 6.384. Investor asing juga mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp 510,07 miliar.
Penjualan bersih pemodal asing paling banyak melanda sejumlah saham utama, di antaranya:
- BMRI: Net sell asing senilai Rp 140,61 miliar
- ANTM: Net sell asing senilai Rp 139,93 miliar
- BBCA: Net sell asing senilai Rp 131,34 miliar
Sektor Pendorong dan Deretan Saham ARA
Pelemahan indeks kemarin dipicu oleh jatuhnya mayoritas sektor saham. Sektor energi merosot 0,93%, material dasar melorot 0,88%, konsumer non-primer melemah 0,94%, dan sektor keuangan turun 0,36%. Namun, sektor transportasi masih bertahan menguat 0,55% dan kesehatan naik 0,21%.
Meski pasar secara keseluruhan tertekan, sejumlah saham berhasil melesat hingga menduduki peringkat Auto Reject Atas (ARA), antara lain:
- CSMI: Melonjak 34,48% ke level Rp 234
- TRUE: Melesat 34,38% ke level Rp 90
- AGAR: Naik 25% ke level Rp 2.300
- NASI: Menguat 24,79% ke level Rp 292
- HOPE: Melesat 24,78% ke level Rp 282
- BAJA: Naik 24,57% ke level Rp 436
- INTD: Menguat 24,39% ke level Rp 306
Selain deretan saham ARA tersebut, saham BBSS juga melonjak tajam 29,11% ke posisi Rp 102 dan saham JAWA terangkat 25,64% menuju level Rp 196.
Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini
Di tengah dinamika pasar yang masih menantang, analis memberikan sejumlah rekomendasi saham yang menarik untuk dicermati pedagang harian maupun investor jangka pendek.
Terkait saham pilihan, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham BIPI dengan target harga Rp 158-165, IRSX dengan target harga Rp 460-475, dan GDST dengan target harga Rp 149-153.
Investor disarankan untuk tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin dengan menetapkan batas stop loss pada transaksi harian. Pelaku pasar diharapkan terus memantau pengumuman resmi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia sebagai petunjuk arah pasar berikutnya.