Penyebab IHSG Anjlok Nyaris 2% Hari Ini Tertekan Sentimen Global

IHSG ambruk nyaris 2 persen pada awal perdagangan. Kenaikan harga minyak dan lonjakan yield US Treasury jadi pemicu utama kejatuhan indeks.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meluncur deras pada pembukaan sesi perdagangan akhir pekan. Indeks domestik dibuka melorot 36,55 poin atau 0,55% menuju posisi 6.552,79, lalu langsung terperosok mendekati 2% dalam waktu singkat.

Tekanan jual kian hebat selang lima belas menit selepas bel pembukaan berbunyi. Level terendah IHSG sempat terseret hingga ambrol 1,82% ke area 6.466,60, di mana sebanyak 527 saham terkoreksi dan hanya 75 saham yang bertahan hijau.

Seluruh Sektor Saham Merah

Aktivitas transaksi di awal sesi mencatatkan volume 7,24 miliar saham dengan torehan nilai mencapai Rp 3,29 triliun. Seluruh sektor saham kompak terjerembet di zona merah, dipimpin oleh sektor energi yang mencatatkan penurunan paling dalam.

Sejumlah saham kelas berat menjadi beban terbesar yang menyeret laju IHSG. Bayan Resources (BYAN) memberi tekanan paling besar hingga 12,37 poin, disusul Bank Central Asia (BBCA) sebesar 11,73 poin, serta Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 6,31 poin.

Dua Sentimen Global Menekan

Kejatuhan pasar saham domestik kali ini disebabkan oleh dua faktor global utama. Memanasnya konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat yang mendongkrak harga minyak, serta lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury menjadi pemicu utama.

Kombinasi kedua variabel ini menghadirkan iklim investasi yang buruk bagi pasar ekuitas. Lonjakan yield menahan valuasi saham, sedangkan lonjakan harga energi memicu lagi kecemasan akan bahaya inflasi tinggi.

Beban Utang Amerika Serikat

Pasar obligasi Paman Sam kini dibayangi pembengkakan utang pemerintah yang telah menembus rekor US$40 triliun. Guna menjaga likuiditas pasar, Departemen Keuangan AS meluncurkan aksi *buyback* surat utang dengan nilai jumbo mencapai US$6 miliar.

Langkah darurat tersebut justru direspons dingin oleh para pelaku pasar global. Yield Treasury tenor 10 tahun melesat ke level 4,84% yang merupakan angka tertinggi sejak Oktober 2023, sementara tenor 30 tahun menembus level 5,3%.

Lonjakan Minyak Mentah Dunia

Kondisi geopolitik di Timur Tengah makin genting usai Iran mengklaim menyerang 10 kapal di Selat Hormuz. Aksi ini merupakan balasan atas tindakan AS yang meluluhlantakkan lima kapal tanker minyak milik armada Iran.

Eskalasi militer ini membuat harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melejit melewati batas US$100 per barel. Efek domino koreksi ini turut merembet ke bursa Asia-Pasifik, di mana indeks Kospi Korea Selatan runtuh 2,7% dan Nikkei 225 Jepang anjlok 2,6%.