Mantan Profesor Cambridge Jason Arday Ditemukan Meninggal

Mantan profesor Cambridge Jason Arday ditemukan meninggal di London setelah mengundurkan diri akibat tuduhan plagiarisme tesis doktoral.

LONDON — Dunia pendidikan tinggi internasional berduka menyusul kabar meninggalnya mantan akademisi University of Cambridge, Jason Arday, pada usia 41 tahun. Pria yang mencetak sejarah sebagai profesor berkulit hitam termuda di Cambridge pada 2023 tersebut ditemukan tak bernyawa di sebuah alamat di Battersea, London, Jumat sore waktu setempat.

Pihak kepolisian setempat langsung mendatangi tempat kejadian perkara guna mengamankan lokasi dan memeriksa kondisi fisik jenazah. Peristiwa ini terjadi sepekan setelah sang akademisi resmi menanggalkan jabatannya sebagai profesor sosiologi pendidikan.

Aparat keamanan menyatakan penanganan kasus kematian mendadak ini dilakukan secara terbuka bersama pihak keluarga mendiang. “Sadly, a 41-year-old man was pronounced dead at the scene. His next-of-kin have been informed and are being supported by officers. At this time his death is being treated as unexpected, but is not believed to be suspicious,” tutur perwakilan Metropolitan Police.

Rentetan Tuduhan Plagiarisme dan Tekanan Opini Publik

Keputusan pengunduran diri Jason Arday berakar dari laporan media yang menuduh adanya plagiarisme pada tesis PhD miliknya sewaktu berkuliah di Liverpool John Moores University. The Daily Telegraph melaporkan naskah tersebut memuat “more than 100 passages that are identical or nearly identical to a 2009 PhD thesis” dari mahasiswa Brunel University, meski terdapat 17 kali penyebutan kredit nama.

Sorotan publik meluas hingga menyasar klaim kemampuan fisik serta penggalangan dana amal yang pernah dijalankannya. Sejumlah pihak yang mengaku mantan teman sekolah meragukan narasi biografi mengenai kondisi autisme masa kecilnya, sementara pendukung akademisi menilai serangan tajam tersebut bermotif rasisme.

Sebelum meninggal, mendiang melayangkan surat pengunduran diri kepada kolega kerjanya untuk menjelaskan tekanan mental yang dihadapi. “While criticism is an inevitable part of academic life, what I have experienced has gone far beyond scholarly disagreement. The relentless accusations, speculation and public commentary have taken a profound toll on me and on those I love,” tulis Dr Arday.

Keputusan berhenti mengajar ditegaskan bukan bentuk pengakuan bersalah atas gelombang tudingan negatif di ruang publik. Surat tersebut menegaskan langkah mundur tidak boleh diartikan sebagai tanda “be mistaken for an acceptance of the narratives that have surrounded me”.

Dukungan Keluarga dan Penyelidikan Terbuka Pihak Kampus

Pihak keluarga menyampaikan duka mendalam atas kepergian figur akademisi yang dikenal berdedikasi tinggi terhadap sesama. Pihak keluarga menyatakan berada “in shock to have lost this amazing father, partner, brother, uncle and son” sembari mengecam narasi sepihak media massa.

Keluarga menilai beban pemberitaan telah merusak kesehatan mental mendiang secara fatal menjelang akhir hidupnya. “The campaign of misinformation was too much for Jason, who was a gentle man and who always wanted to see the best in everyone,” ungkap pernyataan resmi keluarga.

Kritik tajam terhadap perlakuan media turut disuarakan oleh politisi Partai Buruh Bell Ribeiro-Addy yang menyebut mendiang menjadi korban “witch hunt” dan fenomena ketika “people jumped on the bandwagon”. Pengacara Jolyon Maugham yang rutin berkomunikasi dengan korban mengungkapkan bahwa mendiang sempat merasa perjalanan hidupnya telah berakhir.

Liverpool John Moores University sebelumnya telah menjalankan langkah peninjauan tertutup dan menegaskan status gelar doktor mendiang “still stands”. Di sisi lain, University of Cambridge yang sempat menyebut tuduhan tersebut sebagai kampanye fitnah “vile” memutuskan membuka penyelidikan independen terkait proses pengangkatannya.

Buku memoar karya mendiang berjudul Great And Unfortunate Things sedianya dijadwalkan terbit pada 27 Agustus mendatang, namun agenda promosi telah dibatalkan. Layanan bantuan kesehatan mental Samaritans membuka saluran konsultasi darurat bebas pulsa 116 123 di Inggris dan 1 (800) 273-TALK di Amerika Serikat bagi masyarakat yang mengalami tekanan emosional.