IHSG Sesi I Hari ini Terkoreksi 0,28% ke Level 6581 Akibat Konflik Timur Tengah

IHSG sesi I 2 September 2026 terkoreksi ke zona merah usai tertekan tensi geopolitik global dan gejolak harga minyak mentah dunia.

Pergerakan IHSG sesi I 2 September 2026 berbalik arah ke zona merah pada sesi penutupan siang. Indeks Hasil Saham Gabungan terkoreksi 0,28% hingga bertengger di level 6.581,45.

Indeks sempat dibuka menguat ke posisi 6.625,39 sebelum akhirnya terperosok. Angka ini mencerminkan penurunan 18,49 poin dari posisi penutupan sebelumnya di 6.599,94.

Penurunan ini terasa langsung pada portfolio investasi harian pasar modal. Tekanan dari sektor komoditas dan volatilitas eksternal ikut membuat nilai aset saham berkapitalisasi besar merosot.

Transaksi Pasar dan Rotasi Sektor

Perdagangan berlangsung ramai dengan nilai transaksi menembus angka Rp9,91 triliun. Kapitalisasi pasar bursa domestik saat ini tercatat berada di tingkat Rp11.505 triliun.

  • Volume Transaksi: 32,03 miliar saham
  • Frekuensi Perdagangan: 1,51 juta kali
  • Pergerakan Saham: 276 saham menguat, 343 saham melemah, 344 saham stagnan
  • Sektor Penguat Terbesar: Konsumer non-primer (+1,88%) dan kesehatan (+0,83%)
  • Sektor Tertekan Terbesar: Bahan baku (-1,67%) dan utilitas (-1,65%)

Sektor konsumer non-primer dan kesehatan berhasil menahan laju penurunan indeks. Namun, pelemahan pada sektor bahan baku membebani pergerakan bursa.

Pergerakan Saham Top Movers

Penguatan bursa hari ini ditopang oleh kinerja positif saham teknologi serta perbankan. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) memimpin sebagai penyokong utama.

  • Pendorong IHSG: DCII (+8,65 poin), BELI (+6,39 poin), BBCA (+4,69 poin), BSIM (+2,05 poin), BMRI (+1,74 poin)
  • Pemberat IHSG: EMAS (-3,22 poin), BYAN (-3,03 poin), ASII (-3,03 poin), BBRI (-1,55 poin), MDKA (-1,43 poin)

Tekanan jual pada saham tambang dan energi menahan indeks untuk menembus zona hijau. Saham komoditas terkena imbas langsung koreksi harga di pasar global.

Sentimen Geopolitik dan Ekonomi Domestik

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah. Kondisi ini mendongkrak kekhawatiran timbulnya inflasi global serta kenaikan suku bunga lanjutan.

Harga minyak jenis Brent meroket 4,6% menuju level US$94,65 per barel. Yield obligasi US Treasury 10 tahun ikut merangkak naik ke posisi 4,788%.

Dari dalam negeri, sektor manufaktur kembali masuk zona kontraksi dengan angka PMI 49,8. Nilai inflasi bulanan tercatat naik ke level 0,21% atau 3,19% secara tahunan.

Meskipun neraca perdagangan masih berhasil mencetak surplus US$110 juta, nilainya terbilang tipis. Kondisi ekonomi makro ini membuat investor memilih bertindak hati-hati.