Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melorot seiring tekanan yang melanda mayoritas bursa kawasan Asia. Pelemahan ini terjadi akibat aksi risk off dari para investor yang merespons kondisi pasar global.
Langkah tersebut dipicu kekhawatiran atas lonjakan harga minyak yang berpotensi melambungkan inflasi dunia. Situasi ini mendorong para pelaku pasar mengamankan modal dengan beralih menuju instrumen investasi berisiko lebih rendah.
IHSG Terperosok di Sesi Akhir
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (11/9) sore, IHSG ditutup melorot 47,96 poin atau 0,73 persen menuju level 6.541,38. Pelemahan ini turut menyeret indeks LQ45 yang terkoreksi 0,95 persen.
“IHSG dan bursa regional Asia melemah dampak dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan melonjaknya harga minyak yang membebani sentimen,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias NIco dalam kajiannya di Jakarta.
Konflik Global Picu Minyak Melejit
Eskalasi militer di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah dunia melambung melampaui 100 dolar AS per barel. Kondisi ketegangan geopolitik tersebut dinilai berisiko mengganggu kestabilan pasokan energi secara berkepanjangan.
Sentimen pasar kian tertekan oleh rilis data inflasi produsen di Amerika Serikat yang mengalami kenaikan. Lonjakan biaya energi ini memperkuat dugaan para pelaku pasar terkait kebijakan moneter yang bakal diambil.
“Sehingga, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan (16 September 2026),” ujar Nico.
Fokus Sentimen Ekonomi Domestik
Dari dalam negeri, investor mencermati rilis Indeks Penjualan Riil (IPR) bulan Juli yang mencatatkan pertumbuhan 1,1 persen secara tahunan. Capaian positif ini mengindikasikan tingkat konsumsi masyarakat masih relatif terjaga.
“Pencapaian itu memberikan gambaran akan permintaan konsumen yang terjaga,” ujar Nico.
Namun, potensi pembengkakan beban subsidi energi pada APBN akibat lonjakan harga minyak mentah tetap menjadi perhatian utama. Pasar khawatir kondisi tersebut akan memberi tekanan tambahan pada postur anggaran negara.
Seluruh Sektor Saham Merah
IHSG terus tertahan di zona merah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan. Seluruh sektor saham kompak mengalami koreksi, dengan penurunan terdalam melanda sektor barang konsumen non-primer.
Total transaksi harian mencapai Rp14,66 triliun dengan volume perdagangan 28,59 miliar lembar saham. Sebanyak 471 saham mencatatkan penurunan, sementara hanya 197 saham yang sanggup bertahan menguat.