TERKINI24.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Penurunan ini terjadi setelah pasar saham domestik sempat mencatatkan penguatan signifikan pada sesi perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG pada pembukaan perdagangan turun 9,93 poin atau 0,16% ke level 6.364,97. Beberapa menit setelah pasar buka IHSG melemah lebih dalam hingga 0,47%. Indeks diketahui bergerak pada rentang terendah 6.343 dan tertinggi 6.363 pada awal perdagangan pagi ini.
Aktivitas perdagangan awal mencatat sebanyak 232 saham menguat, 90 saham melemah, dan 312 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp 161,71 miliar, dengan volume perdagangan 302,59 juta saham yang berpindah tangan 27.965 kali.
Respons Pasar Dan Sentimen Domestik
Memasuki perdagangan Kamis, 24 September 2026, pasar keuangan Tanah Air masih akan mencermati respons pasar setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya. Para pelaku pasar terus memantau arah kebijakan moneter untuk mengukur stabilitas likuiditas domestik.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada aturan baru perdagangan saham dan rilis data uang beredar. Sementara dari luar negeri, kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat (AS) akan menjadi perhatian. Lonjakan imbal hasil US Treasury serta indeks dolar juga bisa menjadi “badai” baru bagi IHSG.
Sentimen dalam negeri dipengaruhi oleh hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.
Kebijakan Suku Bunga Acuan BI
Kepastian mengenai arah suku bunga disampaikan langsung oleh pimpinan otoritas moneter dalam jumpa pers resmi. Keputusan ini diambil guna menjaga stabilitas nilai tukar serta mengendalikan laju inflasi nasional.
“Rapat Dewan Gubernur BI pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%,” kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).
Keputusan tersebut sesuai dengan hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga. Sebanyak delapan responden memperkirakan BI Rate tetap sebesar 5,75%, sementara tiga lainnya memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%.
Dengan keputusan tersebut, BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026. BI Rate bertahan di level 5,75% setelah sebelumnya dinaikkan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni. BI menaikkan suku bunga dari 4,75% menjadi 5,25% pada 20 Mei 2026. BI Rate kemudian kembali dinaikkan menjadi 5,50% pada 9 Juni dan mencapai 5,75% pada 18 Juni 2026.
Lonjakan Imbal Hasil US Treasury
Tekanan eksternal berpotensi memberatkan pergerakan IHSG akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi ekonomi Paman Sam yang tetap solid memicu kekhawatiran baru terkait arah kebijakan The Fed.
Sementara itu dari global, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun melonjak pada perdagangan Rabu (23/9/2026), menembus level tertinggi dalam hampir dua dekade. Lonjakan terjadi setelah data ekonomi menunjukkan aktivitas bisnis yang kuat sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Yield Treasury 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,11%, level tertinggi sejak 2007. Yield bahkan sempat menyentuh 5,14% dalam perdagangan. Kenaikan yield Treasury 10 tahun penting karena menjadi acuan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi. Ketika yield naik, biaya kredit perumahan, pinjaman kendaraan, hingga pembiayaan bisnis ikut terdorong lebih tinggi.
Lonjakan yield terjadi setelah data S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh dengan laju tercepat sejak Juli 2021. Di saat yang sama, biaya input melonjak akibat kenaikan harga energi. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, terutama karena perekonomian AS masih menunjukkan kekuatan.
Yield Treasury 30 tahun melonjak 11 basis poin menjadi 5,4%, level tertinggi tahun ini. Angka tersebut merupakan level intraday tertinggi sejak 2007 dan level penutupan tertinggi sejak 2004. Adapun yield Treasury 2 tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik sekitar 16 basis poin hingga mencapai 4,9%, tertinggi sejak 2024. Yield Treasury 5 tahun juga menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007 setelah lelang obligasi rutin pada Rabu.
Kenaikan imbal hasil ini menjadi kabar buruk bagi Indonesia karena bisa memicu kenaikan imbal hasil SBN dan beban utang pemerintah. Para investor dan pemodal diimbau untuk terus mengantisipasi dinamika pasar global ini dengan menerapkan strategi manajemen risiko yang disiplin demi menjaga portofolio investasi tetap aman.