IHSG berbalik melemah ke level 6.669,36 pada perdagangan Kamis (10/9/2026) pagi pukul 09.23 WIB. Penurunan sebesar 8,84 poin ini terjadi meski indeks sempat menguat hingga level 6.712,50 di awal sesi.
Pergerakan pasar saham domestik mengekor arah bursa Asia yang kompak memerah. Tekanan global makin terasa menyusul lonjakan harga minyak Brent yang resmi menembus 100 dollar AS per barrel.
Konflik memanas antara Iran dan Amerika Serikat di Timur Tengah menjadi pemicu utama aksi lepas aset berisiko. Pembaca dan investor perlu mencermati dampak berantai fenomena ini, mulai dari potensi kenaikan harga BBM hingga risiko inflasi yang membayangi dompet harian.
Pemicu Utama Pelemahan IHSG Pagi Ini
Pasar saham domestik sebenarnya mengawali hari dengan angin segar. Indeks dibuka pada posisi 6.688,18 dan langsung melesat ke zona hijau.
Sayangnya, momentum positif tersebut tidak bertahan lama. Dorongan sentimen negatif dari pasar global dengan cepat menyeret indeks turun hingga menyentuh titik terendah harian di level 6.666,58.
Peta Pergerakan Saham dan Nilai Transaksi
Data RTI mencatat sebanyak 321 saham melemah. Angka tersebut melampaui jumlah 214 saham yang berhasil menguat, sementara 428 saham bertahan stagnan.
Aktivitas perdagangan di pasar modal berlangsung cukup dinamis. Total volume transaksi menembus 8,681 miliar saham dengan nilai keseluruhan mencapai Rp5,323 triliun.
Jajaran Saham Top Gainers LQ45
Di tengah koreksi IHSG, beberapa saham unggulan masih sanggup menorehkan kinerja positif. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) memimpin penguatan dengan lonjakan 6,91 persen ke Rp1.005 per saham.
Langkah kenaikan CUAN diikuti oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang melesat 2,61 persen ke Rp12.775. Selanjutnya, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga naik 2,19 persen ke posisi Rp3.270.
Jajaran Saham Top Losers LQ45
Sektor komoditas dan perbankan mengalami tekanan yang lumayan terasa. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menjadi penekan terberat indeks setelah terkoreksi 1,49 persen ke Rp990 per saham.
Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menyusul turun 0,91 persen ke Rp545. Di saat bersamaan, saham perbankan raksasa PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ikut melorot 0,72 persen ke Rp690.
Bursa Asia Merah akibat Konflik Energi
Tekanan yang dialami pasar domestik berbanding lurus dengan situasi di kawasan regional. Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang terpangkas 1 persen.
Pasar saham utama Asia lainnya juga terkapar di zona merah. Indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan kompak mencatatkan penurunan di atas 1 persen.
Lonjakan Minyak Brent dan Lonjakan Inflasi
Kenaikan harga minyak berjangka Brent ke angka 101,4 dollar AS per barrel menjadi perhatian utama pelaku pasar. Ini merupakan level tertinggi minyak dunia sejak pertengahan 2026.
Eskalasi serangan terhadap kapal di Teluk Timur Tengah memicu kecemasan gangguan distribusi pasokan energi. Situasi ini langsung mendorong kekhawatiran lonjakan inflasi dan kenaikan imbal hasil obligasi global secara masif.