PADANG — Warga pesisir barat Sumatra Barat diimbau memeriksa kondisi struktur bangunan rumah usai gempa bumi berkekuatan M6,1 mengguncang wilayah perairan barat pada Selasa (18/8/2026) siang. Getaran lindu sempat memicu kepanikan sesaat karena terasa di Padang dan sekitarnya selama kurang lebih 10 detik.
Peristiwa tektonik ini terjadi tepat pada pukul 13.02.23 WIB saat warga tengah beraktivitas di dalam ruangan. Berdasarkan verifikasi awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), guncangan dipastikan tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami di sepanjang garis pantai.
Titik Pusat Getaran dan Kedalaman Gempa
Sistem pemantauan gempa bumi nasional mencatat episenter getaran berada pada koordinat 0,65 Lintang Selatan dan 98,32 Bujur Timur. Pusat getaran dasar laut ini berjarak sekitar 147 kilometer arah tenggara Nias Selatan, Sumatera Utara.
Aktivitas lempeng tektonik dasar samudera tersebut tercatat berada pada hiposentrum berkedalaman 29 kilometer. Sumber kedalaman dangkal ini menyebabkan energi rambat seismik dapat dirasakan hingga ke daratan wilayah provinsi tetangga.
Peringatan resmi disebarkan BMKG melalui jaringan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS) pada pukul 13.05.06 WIB. Informasi cepat ini dirilis guna meredam kekhawatiran warga yang berdiam di area pesisir pantai barat Pulau Sumatra.
Guncangan Kuat yang Melanda Wilayah Daratan
Warga di ibu kota Provinsi Sumatera Barat merasakan ayunan getaran fisik yang cukup menghentak perabotan rumah. Durasi getaran yang mencapai sepuluh detik memaksa sebagian pekerja kantoran keluar gedung menuju titik kumpul terbuka.
Laporan getaran serupa ikut dirasakan oleh masyarakat yang bermukim di pesisir barat Kabupaten Kepulauan Mentawai dan wilayah Sumatra Utara bagian selatan. Sebagian besar warga sempat menghentikan aktivitas transportasi darat ketika kendaraan mereka terasa bergoyang.
Kondisi kepanikan berangsur mereda beberapa menit setelah getaran berhenti dan masyarakat kembali ke tempat tinggal masing-masing. Fasilitas publik seperti pelabuhan penyeberangan dan bandara udara dilaporkan tetap beroperasi normal seusai fase getaran awal reda.
Pendataan Dampak Kerusakan dan Korban
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tingkat kota dan kabupaten setempat langsung menggerakkan regu reaksi cepat untuk memantau pemukiman padat penduduk. Petualangan data difokuskan pada kawasan perbukitan yang rawan pergeseran tanah serta fasilitas pelayanan kesehatan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada laporan mengenai dampak kerusakan fisik pada rumah warga maupun korban jiwa akibat peristiwa alam tersebut. Petugas gabungan terus menyisir area pesisir guna memastikan seluruh infrastruktur vital seperti jembatan dan jaringan listrik tetap berfungsi baik.
Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi getaran susulan berskala lebih rendah yang lazim terjadi pascagempa utama. Warga diharapkan menyaring seluruh informasi bencana hanya dari kanal komunikasi resmi milik BMKG dan pemerintah daerah setempat.




