Buyback Emas Antam Hari Ini Turun Menjadi Rp 2,45 Juta Per Gram Menyusul Anjloknya Harga Emas Dunia

Rincian harga serta buyback emas Antam hari ini mengalami penurunan Rp 25.000 per gram akibat tekanan inflasi AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Harga emas batangan Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mencatatkan penurunan pada perdagangan hari ini. Pada Jumat (11/9/2026), emas Antam dibanderol Rp 2.600.000/gram. Angka ini melemah Rp 25.000 dari harga kemarin yang dihargai Rp 2.637.000/gram.

Sementara itu, untuk nilai buyback emas Antam hari ini terpotong Rp 25.000 dibanding hari sebelumnya. Sedangkan harga pembelian kembali (buyback) oleh Antam ada di Rp 2.450.000/gram.

Tekanan Harga Emas Dunia Menyeret Logam Mulia Lokal

Kejatuhan harga emas dunia turut melongsorkan emas Antam. Kondisi pasar global memberikan dampak langsung terhadap pergerakan emas domestik.

Kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 4.317,3/troy ons. Ambruk 1,84% dibandingkan hari sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak 6 Agustus atau lebih dari sebulan terakhir.

Koreksi tajam pada pasar logam mulia internasional ini dipicu oleh rilis indikator ekonomi terbaru dari Negeri Paman Sam.

Lonjakan Inflasi Produsen Amerika Serikat Jadi Pemicu

Sentimen negatif bagi harga emas adalah rilis data inflasi produsen Amerika Serikat (AS). Data tersebut menunjukkan adanya kenaikan tekanan harga di tingkat produsen.

Kemarin, US Bureau of Labor Statistics melaporkan inflasi produsen di Negeri Paman Sam tercatat 0,4% secara bulanan (month-to-month/mtm) untuk periode Agustus. Ini menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi produsen berada di 5,4%. Lebih tinggi dibandingkan Juli yang sebesar 4,8% dan sedikit di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan di 5,3%.

Sementara itu, inflasi inti (core) di tingkat produsen untuk periode Agustus masing-masing di 0,2% mtm dan 4,6% yoy. Pada Juli, inflasi inti di tingkat produsen adalah 0,3% mtm dan 4,3% yoy.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Prospek Aset Emas

Meningkatnya data inflasi memperkuat spekulasi terkait langkah pengetatan moneter oleh bank sentral AS.

“Data inflasi produsen yang tinggi meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) akan menaikkan suku bunga. Saat The Fed mengerek suku bunga, bank sentral di negara lain juga akan merespons inflasi yang membandel dengan pengetatan kebijakan moneter,” kata Jayati Bharadwaj, Head of FX Strategy di TD Securities, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Usai laporan data inflasi, persepsi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan kian tebal. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75-4% pekan depan mencapai 71,3%.

Kondisi ini menjadi penekan utama bagi emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil. Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.

Apalagi bank sentral lain juga terbukti sudah menaikkan suku bunga. Kemarin, bank sentral Uni Eropa (ECB) mengerek suku bunga simpanan sebesar 25 bps menjadi 2,5%. Langkah yang sesuai dengan ekspektasi pasar.