Apa itu Sesar Naik Busur Belakang Flores? Patahan Aktif Pemicu Gempa M7,7 di NTT

Sesar Naik Busur Belakang Flores adalah patahan aktif di utara Bali hingga Nusa Tenggara yang memicu gempa bumi dangkal bermagnitudo besar.

Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust (FBT) merupakan struktur patahan tektonik aktif yang membentang di kawasan perairan utara Kepulauan Nusa Tenggara. Keberadaan sesar ini menjadi pemicu utama terjadinya gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Struktur geologi ini tergolong sangat aktif dan berpotensi menghasilkan gempa bumi berkedalaman dangkal dengan magnitudo besar. Mekanisme pergerakan sesar ini kerap memicu deformasi dasar laut yang dapat membangkitkan gelombang tsunami.

Pengertian dan Karakteristik Sesar

Flores Back-Arc Thrust adalah rekahan aktif pada kerak bumi yang melintang dari sebelah utara Pulau Bali, Nusa Tenggara, hingga wilayah perairan Wetar. Sesar ini terbentuk akibat proses kompresi gaya tektonik dari penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

  • Lokasi sebaran: Perairan utara Bali, NTB, NTT, hingga perairan Wetar
  • Mekanisme pergerakan: Patahan naik (thrust faulting)
  • Karakteristik gempa: Hiposenter dangkal dengan potensi magnitudo besar
  • Dampak utama: Deformasi kerak bumi vertikal di dasar laut dan ancaman tsunami

Kombinasi antara hiposenter yang dangkal dan pergerakan sesar naik menyebabkan pelepasan energi tektonik berdampak merusak di permukaan daratan. Deformasi vertikal dasar laut yang terjadi saat sesar bergerak menjadi penyebab utama timbulnya gelombang tsunami di kawasan pesisir.

Risiko Bencana dan Upaya Mitigasi

Sesar Naik Busur Belakang Flores memiliki tingkat kerentanan tinggi akibat akumulasi regangan (strain rate) yang terkunci dalam kurun waktu lama. Ketika energi yang terkumpul melepaskan tekanannya, gempa kuat dapat terjadi secara mendadak di sepanjang jalurnya.

Ancaman bencana dari aktivitas patahan ini bersifat permanen di wilayah utara Bali hingga Nusa Tenggara. Rekam jejak sejarah menunjukkan bahwa zona sesar ini telah berulang kali memicu peristiwa gempa bumi besar dan tsunami mematikan di kawasan tersebut.

Pakar kebencanaan menekankan pentingnya realisasi bangunan tahan gempa untuk menekan risiko korban jiwa serta kerusakan infrastruktur. Penguatan literasi mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah pesisir menjadi langkah krusial dalam menghadapi potensi ancaman dari Flores Back-Arc Thrust.